Sunday, December 2, 2012

Selamat menjalani musim Adven 2012


  1. "TETESAN AIR MATA SANG KOSTER
    DI MINGGU PERTAMA ADVENT"


    Mungkin karena si koster lupa sesuatu maka ia masih berjalan ke arah lemari kecil di pinggir altar untuk mengambilnya sementara saya sudah berada di belakang altar untuk memulai Eka
    risti tadi pagi. Tiba-tiba sang pembawa acara yang kebetulan menjabat sebagai penanggung jawab di kapel kecil itu dengan reaksi keras menegur si koster. Si koster pun dengan wajah pucat dan malu kembali ke tempatnya sementara saya sendiri walaupun mengetahui kejadian kecil itu tapi berbuat seolah-olah tidak tahu menahu tentang itu agar perayaan Misa dapat berlangsung dengan khusyuk. Namun akibat teguran dan reaksi keras itu, air mata si koster terus mengalir selama misa berlangsung

    Setelah misa aku masih melayani lagi seorang nenek yang akan berusia 90 tahun pada lusa nanti di kamar pengakuan. Setelah itu aku hendak bergegas meninggalkan kapel kecil itu, namun melihat lagi si koster yang sementara mengembalikan kursi-kursi pada tempatnya sementara air matanya terus mengalir karena rasa malu yang ditanggungnya, ditegur secara kasar di hadapan umat dan imam pada saat misa.

    Aku lalu menghampirinya, memegang bahunya dan membisikkan beberapa kata penghiburan kepadanya; "Anakku, engkau boleh meneteskan air mata karena pengalaman itu, tapi kadang kita harus mengalami sesuatu yang mungkin menyakitkan agar iman kita pun bertumbuh." Ia mendengarnya namun tak bisa menahan tetesan air mata yang terus mengalir membasahi bumi tempat kami berdua berpijak.

    Tiba-tiba ada sebuah kursi kecil terletak di dekat tempat kami berdiri. Aku lalu mengatakan kepadanya; "Lihatlah apa yang akan kuperbuat....Aku pura-pura berjalan menuju kursi itu dan menabraknya....Sentuhan itu membuatku menjerit. Ia lalu bertanya; Father, tidak apa-apa kan? Kujawabnya: "Iya...tidak koq...walaupun ada sedikit rasa sakit pada lututku karena tabrakan itu. Untuk kedua kalinya aku berjalan menuju kursi itu, tapi tidak menabraknya, melainkan melompatinya dan mendarat di sisi yang lain sambil menampakan rasa gembira karena lompatan itu. Ia pun tertawa terbahak-bahak melihat tingka lakuku yang sedikit aneh di pagi tadi.

    Ia lalu menghampiriku dan berkata; Father, terima kasih..Sekarang aku mengerti alasan father menjerit ketika menabrak kursi dan kegembiraan yang father tunjukkan ketika berhasil melompatinya. Terima kasih atas pelajarannya...Aku akan menghapus air mataku dan takan membiarkan hinaan ini merenggut kebahagiaanku untuk melayani Tuhanku di rumah-Nya ini.

    Senyum indahnya pun terlihat di wajahnya. Aku pun membalasanya, lalu pamit kembali ke tempat kostku dengan angkot pagi di kota Manila.

    Pesannya; "Manusia seperti koster adalah orang-orang kecil, yang tentunya tidak membutuhkan penghormatan dan penghargaan yang tinggi ketika menjalankan tugas mereka untuk membersihkan gereja dan mempersiapkan peralatan misa atau ibadat. Bagi mereka, ini adalah kesempatan untuk melayani Tuhan dan sesama mereka. Namun, mereka juga adalah manusia yang membutuhkan sebuah senyum darimu, seuntai kata lembut dan penghargaan yang pantas untuk pelayanan mereka." Ingatlah bahwa Tuhan pun menangis ketika engkau membuat mereka meneteskan air mata. Satu hal yang kuyakini adalah mereka melayani Tuhan maka Tuhan pun takan pernah meninggalkan mereka."


    Goresan hati seorang sahabat untuk para sahabatnya,

    ***Duc in Altum***

No comments:

Post a Comment