Thursday, September 20, 2012


Fratres,
Sto Josemaria Escriva, pendiri Opus Dei mengajarkan kita:
#338 Dahulu kala, di mana pengetahuan manusia---ilmu pengetahuan---itu sangat terbatas, agak mungkin bahwa seorang terpelajar sanggup mempertahankan dan membela seorang diri iman kita yang suci.

Pada zaman sekarang ini, dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan modern, pembela-pembela iman haruslah membagi tugas di antara mereka untuk membela Gereja secara ilmiah di segala bidang.

Engkau tidak dapat menghindari diri dari tanggung jawab ini."

Secara umum, terdapat tujuh pertimbangan berkaitan dengan cara kamu dan saya di dalam MENJELASKAN IMAN dan atau pun di kala dituntut untuk melakukan PERTANGGUNG-JAWABAN terhadap iman kita yang satu, kudus, katolik dan apostolik.

"Kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni,"

Pedoman di atas itu datang dari AMANAT rasul Sto. Petrus pada ayat 3:15-16
“15 Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,

16 dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.. “

1. Kita sama sekali tidak akan dapat melakukannya kecuali kalau kita dan orang yang menantang iman tersebut bersikap benar dan jujur. Satu-satunya alasan yang membuat setiap orang percaya segala sesuatu adalah karena hal itu benar. Jika suatu kelompok percaya akan kebenaran tertentu sementara kelompok lainnya tidak, maka tidak akan terjadi dialog yang mendalam di antara kedua belah pihak.

2. Jika kita tidak dapat bertukar pendapat dengan sesama dalam suatu semangat cinta, maka sebaiknya kita tidak bertukar pendapat dengan mereka. Allah sendiri berkata, “Marilah, baiklah kita bermufakat” (Yes 1:18, terjemahan secara literal).

Perundingan dengan tujuan “Saya menang, Anda kalah” adalah perundingan yang gagal, karena meskipun argument yang kamu sampaikan menang, kamu akan kehilangan sesamamu. Di atas semuanya itu, kita harus memenangkan sesamamu DAN BUKAN memenangkan SUATU pendapat (1Kor 9: 19-22).

“19 Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.

20 Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.

21 Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.

22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.”

Fratres,
Orang2 hanya akan percaya dengan seseorang yang mau mendengarkan orang lain.

Biarkanlah sesamamu itu menyampaikan alasan-alasan atas kepercayaannya.

Jadi pertama-tama, dengarkanlah, dengan sungguh-sungguh.

Kedua, ajukan pertanyaan kepadanya. Jadi, mula-mula jadilah muridnya dan biarkanlah dia menjadi gurumu.

Kemudian yang ketiga, temukanlah kelemahan dalam hal apa dia percaya dan ajukanlah pertanyaan tentangnya. Tertariklah dengan kepercayaannya dan dia mungkin akan tertarik dengan kepercayaanmu.

Bacalah Kis 17:16-34 untuk melihat cara Sto. Paulus menggunakan metode ini.

3. Pertimbangan-pertimbangan imanmu tidak membutuhkan bukti-bukti saintifik atau seilmiah atawa canggih. Ketika kita berbicara tentang orang, dan alasan-alasan mempercayai orang, kita tidak membutuhkan bukti-bukti canggih, kita hanya membutuhkan pertimbangan yang baik maupun petunjuk yang benar. Kita menambahkan bukti-bukti saintifik hanya pada hal-hal yang ada di dunia ini. Allah bukan sesuatu yang ada di dunia. Dia adalah Pribadi yang menciptakan dunia (Kej 1:1; Kej 1: 4).

4. Janganlah bersandar pada kecerdasan diri sendiri saja, tetapi terutama kepada Allah. “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” (Mzm 127:1). Hal ini berlaku untuk bangungan ide (argument) dan juga bangunan diri (iman) kita, sebagai Gereja yang dibangun di atas Simon Kefas sang batu karang dan bukan di atas pasir.

Kita ini sebatas hanya bisa menyediakan semua sarana bagi Allah yang dapat Ia pergunakan dari kita.

Dia berkarya di dalam hati manusia.

PENTING:
Kita tidak dapat mengubah siapa pun. Hanya Allah yang dapat melakukannya. Meskipun begitu, kita DAPAT MENABURKAN BENIH kepada sesama di sekeliling untuk kemudian dikembangkan oleh Allah bukan?

Menjalankan tugas perutusan setiap kita yang kita terima dan bawa pulang setiap hari Minggu pada berkat penutup, “Ite, Missa est”—“Pergilah, kalian diutus.”

5. Janganlah takut untuk beradu argument dengan orang-orang yang tidak percaya, PUN tidak soal seberapa cerdas engkau dibandingkan dengan orang itu. Engkau memiliki sesuatu yang tak kunjung padam di pihakmu: yakni kepenuhan kebenaran; absolute truth. Percayalah, tidak akan ada nada argument yang valid yang dapat melawan iman Katolik kita yang kudus. Tidak akan ada pertentangan yang sungguh sanggup memisahkan iman dan akal budi, atau antara iman dan sains, atau iman dan logika. Semua kebenaran adalah kebenaran Allah, dan Allah tidak mengandung kontradiksi di dalam diri-Nya sendiri. Ini dijamin oleh Allah sendiri.

6. Ingatlah bahwa, bahwa manusia itu terutama digerakkan lebih oleh hati dibandingkan oleh akal mereka. Tunjukkanlah kepada mereka cinta Allah dan mereka akan mau percaya kepada-Nya.

Orang-orang tidak percaya terutama karena mereka salah paham dan takut: mereka mungkin berpikir bahwa Allah adalah seperti manajer bank di angkasa, atau penjaga buku, atau polisi.

Ingatlah fakta bahwa dunia dan peradaban di dunia ini diubah oleh Allah melalui 12 petani, nelayan, tabib (para 12 rasul pertama) dan aneka macam profesi yang terbukti sanggup menunjukkan siapa Allah itu sesungguhnya kepada mereka2 yang pada awalnya tidak percaya, bukan?

7. Ketika berjumpa dengan sesama orang Kristiani, hal pertama yang ingin mereka lakukan bukan ingin mempertanyakan atau membuktikan eksistensi Allah, keilahian Kristus, atau otoritas Ilahi Gereja. Itu soal lain.

Ketika berjumpa dengan orang Kristiani atau sesama umat Gereja Allah, reaksi orang-orang adalah “kami juga ingin memiliki apa saja yang kalian miliki.” Orang Kristiani umumnya akan berkata, “Yang kami miliki adalah Yesus.” Lalu setelah mengetahui Kristus melalui orang Kristiani, mereka ingin mengenal Allah melalui Kristus. Hal seperti itu sungguh terjadi dan terbukti dari sekian diskusi yang selama ini terjadi pada beberapa posting di sini, fratres.

Iman adalah sesuatu yang mengagumkan untuk dibagi-bagikan. Iman selalu membawa kebahagiaan, dan kebahagiaan pula kepada diri kita pribadi pada saat dibagi-bagikan. Karena Warta Gembira, Kabar Baik yang kita teruskan. Menjadi terang dan garam. Tetapi, usaha untuk membagikan iman itu tentunya mesti dilakukan dengan lembut dan penuh hormat (1Pet 3:15).

"Damnant quod non intellegunt!"--"Mereka [baca: manusia itu cenderung untuk] menyalahkan/mengutuk apa yang mereka tak mengerti."

Wednesday, September 19, 2012

Fratres,
Banyak orang Katolik yang sering merasa tak pandai dalam merangkai kata memanjatkan doa yang BAGUS [DAN BENAR secara teologis!). Saya dan kamu mungkin termasuk salah satunya. Itu sebabnya ada yang lebih suka pakai rumusan doa resmi atau rumusan doa tradisional yang sudah berusia puluhan, bahkan ratusan tahun dipakai oleh Gereja Universal.

Berikut ini adalah doa makan tradisional, yang dipakai Gereja Katolik dari ujung utara Amerika sampai ujung selatan Afrika; dari Istana Kepausan di Vatikan sampai ke biara-biara kuno di Eropa dan rumah-rumah umat awam.

Doa-doa ini dikutip dari terjemahkan dari buku' Preces Selectae (Doa-Doa Terpilih) terbitan Vatikan.

Aslinya tentu, SEPERTI SELALU dalam Bahasa Latin yang turut disertakan juga di bawah ini, buat mereka2 yang tertarik dan mau belajar.

Versi Bahasa Inggrisnya banyak kok bertebaran di internet, kalau2 mau boleh mencoba di-Google.

SEBELUM MAKAN

~ "Berkatilah, Ya Tuhan, kami dan pemberian-pemberian-Mu ini,
yang akan kami sambut dari kelimpahan-Mu.
Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami." (Amen.)

~ Sebelum makan siang:
"Semoga Raja kemuliaan kekal menjadikan kita peserta perjamuan surgawi." (Amen.)

~ Sebelum makan malam:
Semoga Raja kemuliaan kekal membimbing kita ke perjamuan hidup abadi." (Amen.)
------------------------------------

ANTE MENSAM (= SEBELUM MAKAN)

Bénedic, Dómine, nos, et haec tua dona,
quae de tua largitáte sumus sumptúri.
Per Christum Dóminum nostrum. (Amen.)

~ Ante prandium:
Mensae caeléstis partícipes fáciat nos Rex aetérnae glóriae. (Amen.)

~ Ante cenam:
Ad cenam vitae aetérnae perdúcat nos Rex aetérnae glóriae. (Amen.)

DOA SESUDAH MAKAN

"Kami mengucap syukur kepada-Mu, Allah Yang Mahakuasa,
atas segala anugerah-Mu:
Engkau yang hidup dan meraja sepanjang segala abad." (Amen.)

Semoga Allah memberi kita damai-Nya.
Dan hidup kekal. (Amen.)

~ POST MENSAM (= DOA SESUDAH MAKAN)

Agimus tibi grátias, Omnípotens Deus,
pro univérsis benefíciis tuis:
Qui vivis et regnas in sáecula saeculórum. (Amen.)

Deus det nobis suam pacem.
Et vitam aetérnam. (Amen.)

Bagus, ya?
Singkat dan mantap.
Lagipula, siapa yang bilang doa makan itu harus panjang dan bertele-tele?

"Fide, sed qui, vide!"--"Percayalah tapi berhati-hatilah memilih orang yang kau percayai."

[+In Cruce Salus, Pada Salib Ada Keselamatan. ~Thomas A Kempis, 'De Imitatione Christi, II, 2, 2]
*Credit to Albert Wibisono dan re-post dari Blog Tradisi Katolik pada tautan < http://www.tradisikatolik.blogspot.com/ >

PS.
Keterangan gambar: Sto Benedictus dari [kota kecil] Norcia di Italia, pelindung benua Eropa yang namanya secara sengaja dipilih oleh +Joseph Kardinal Ratzinger (kini Paus Benediktus XVI yang kita kasihi), sedang siap bersantap bersama para biarawan2.

Fratres, mengenai MANFAAT SALIB itu:
Dalam surat-suratnya, Sto. Fransiskus dari Sales bercerita tentang kebiasaan di daerah-daerah pedalaman di mana beliau tinggal.

Dia sering melihat seorang buruh tani melintasi ladang untuk menimba air di sumur.

Dia juga melihat bahwa, sebelum dia mengangkat timba yang sudah penuh dengan air itu, anak gadis buruh tani itu SELALU MELETAKKAN SEPOTONG ke atasnya.

Suatu hari Sto. Fransiskus bertanya kepadanya, “Mengapa kamu melakukan itu?”

Dia tampak terkejut lalu menjawab, seolah-olah memang demikian seharusnya, “Mengapa? Agar airnya menjadi tenang dan tidak tumpah.”

Ketika menulis surat untuk seorang sahabat setelah peristiwa itu, Uskup Fransiskus dari Sales menceritakan hal ini dan menambahkan, “Jadi, bila PADA SAAT hatimu sedang resah dan bergolak, letakkanlah salib ke tengahnya agar hatimu tenang dan tidak resah.” ~Barclay

*"Fluctuat nec mergitur!"--"Terombang-ambing tapi tak tenggelam."

[+In Cruce Salus, Pada Salib Ada Keselamatan. ~Thomas A Kempis, 'De Imitatione Christi, II, 2, 2]
*Moto ibukota Perancis, Paris.

Tuesday, September 18, 2012

"BERTERIMA KASIHLAH SELALU"

Kadang terjadi bahwa ada saja bantuan barang atau hal yang kita terima dalam hidup tanpa tahu siapa pemberi dan mengapa mereka memberi kepada kita. Entah tahu atau tidak tapi seuntai TERIMA KASIH harus keluar dari mulut dan bibirmu karena sesungguhnya Tuhan selalu ada dibalik segala bentuk kebaikan yang Anda terima.

***Duc in Altum***
~KATEKESE~

SAKRAMEN PERMINYAKAN ATAU SAKRAMEN PENGURAPAN ORANG SAKIT
Banyak dari antara kita yang takut mendengar kata “Sakramen Peminyakan”. Ketakutan terbesar adalah bahwa bila menerima Sakramen ini, berarti adalah suatu “pertanda” bahwa orang yang menerimanya sebentar lagi akan meninggal. Bagaimana sebenarnya?

ISTILAH UNTUK SAKRAMEN INI DAN BAGAIMANA SAKRAMEN INI DITERIMAKAN

Dalam Gereja Katolik, Sakramen Perminyakan atau Sakramen Pengurapan, termasuk ke dalam Sakramen Penyembuhan selain Sakramen Tobat. Sakramen ini diterimakan oleh Uskup dan Imam. Minyak yang digunakan adalah minyak yang yang sudah diberkati Uskup secara khusus. Minyak ini disebut OLEUM INFIRMORUM (OI), dan berbeda dari Minyak Krisma ataupun Minyak Katekumen.

Dalam Gereja Ortodoks (yang terpisah dari Gereja Katolik) , Sakramen ini diterimakan oleh tujuh, lima, atau tiga orang imam, namun demikian apabila mendesak dapat oleh satu imam saja. Apabila terjadi bahwa umat Katolik berada di suatu daerah terpencil di mana tidak ada Gereja Katolik, namun yang ada adalah Gereja Ortodoks, umat katolik dapat meminta pelayanan Sakramen ini pada imam Gereja Ortodoks DALAM SITUASI DARURAT DAN MENDESAK.

Adapun istilah bahasa Inggris untuk Sakramen ini, yaitu “Extreme Unction” baru menjadi populer pada akhir abad ke-20 dan tidak pernah terjadi di kalangan Gereja Katolik Timur . Dikatakan “Extreme Unction” adalah karena pengurapan ini ditujukan untuk mereka yang dalam kondisi IN EXTRIMIS (secara khusus diterapkan pada orang yang menjelang ajal). Dalam Gereja Katolik Timur, Sakramen ini dikenal dengan nama EUCHELAION. Adapun nama lain seperti ELAION HAGION, HEGISMENON, atau ELAION masih juga digunakan. Umat Gereja Katolik Latin, tentu saja amat sangat diperbolehkan menerima Sakramen ini dari imam Gereja Katolik Timur, entah dalam keadaan wajar ataupun darurat.

PERTANGGUNGJAWABAN ATAS SEGI SAKRAMENTAL PENGURAPAN ORANG SAKIT

BERBEDA dengan jemaat gerejawi (Protestan), sejalan dengan KONSILI TRENTE, Gereja Katolik mengakui bahwa Pengurapan Orang Sakit adalah SUNGGUH-SUNGGUH SAKRAMEN YANG DIDIRIKAN OLEH YESUS KRISTUS SENDIRI seperti yang tersirat dalam Markus 6:13 yang berkata demikian : “...dan mereka (pengikut-pengikut Yesus) mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka. “ Dalam perjalanan waktu, sakramen ini kemudian diperintahkan kepada orang beriman dan dipromulgasikan (atau“diundangkan”) secara resmi oleh Rasul Sto.Yakobus, seperti juga tertulis dalam Kitab Suci, “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.” (Yak 5:14-15). Penatua Jemaat adalah Presbiter, yaitu tidak lain adalah imam DAN BUKAN seorang yang dituakan dalam jemaat. Mengapa seorang imam? Karena dalam Sakramen ini ada unsur pengampunan dosa.

MATERIA DAN FORMA
Materia remota Sakramen Pengurapan Orang Sakit adalah minyak yang sudah diberkati Uskup (OI) sedangkan materia proximata adalah pengurapan dengan OI. Pada masa lampau, Imam mengurapi kelima panca indera eksternal (mata, telinga, lubang hidung, bibir, tangan) dan kaki, serta pada pinggang (khusus untuik pria jika berterima dengan adat setempat dan jika si sakit dapat leluasa bergerak). Sambil mengurapi setiap panca indera si sakit, imam berkata, (terjemahan bebas dari bahasa Inggris) “Semoga lewat pengurapan suci ini dan belas kasihan-Nya, Tuhan mengampuni dosa dan kesalahan apapun melalui (indera) penglihatanmu (pendengaranmu, penciumanmu, perasamu,peraba, pada waktu engkau berjalan, (segala) kenikmatan duniawi). Kini, pengurapan dapat dilakukan hanya pada dahi (dan tangan) , dan hal ini sudah memenuhi validitas Sakramen. Dalam bahasa Indonesia, rumusan yang lazim digunakan adalah, “'Semoga dengan pengurapan suci ini, Allah yang maharahim menolong Saudara dengan rahmat Roh Kudus. Semoga Ia membebaskan Saudara dari dosa, menganugerahkan keselamatan, dan berkenan menabahkan hati Saudara”. Adapun forma Sakramen ini adalah doa resmi yang digunakan oleh baik oleh Gereja Katolik Latin maupun Gereja Katolik Timur.

SIAPA SAJA YANG DAPAT MENERIMA SAKRAMEN INI?
KATEKISMUS GEREJA KATOLIK (1514-1515)

1514 Urapan orang sakit "bukanlah Sakramen bagi mereka yang berada di ambang kematian saja. Maka saat yang baik untuk menerimanya pasti sudah tiba, bila orang beriman mulai ada dalam bahaya maut karena menderita sakit atau sudah lanjut usia" (SC 73)
1515 Kalau seorang sakit yang telah menerima urapan ini sehat kembali, maka ia dapat menerima lagi Sakramen ini, apabila ia sakit berat lagi. Dalam menderita penyakit yang sama, Sakramen ini dapat diulangi, kalau keadaan makin buruk. Dianjurkan agar seorang yang menghadapi operasi besar, menerima Urapan Orang Sakit. Demikian juga berlaku untuk orang tua renta, yang kekuatannya mulai melemah.

BUAH YANG DITERIMA DARI SAKRAMEN PENGURAPAN ORANG SAKIT
KATEKISMUS GEREJA KATOLIK (1520-1523)

1520 Satu anugerah khusus Roh Kudus. Rahmat pertama Sakramen ini ialah kekuatan, ketenangan, dan kebesaran hati untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan satu penyakit berat atau dengan kelemahan karena usia lanjut. Rahmat ini adalah anugerah Roh Kudus, yang membaharui harapan dan iman kepada Allah dan menguatkannya melawan godaan musuh yang jahat, melawan godaan untuk berkecil hati dan rasa takut akan kematian Bdk. Ibr 2:15.. Bantuan Tuhan melalui kekuatan Roh-Nya hendak membawa orang sakit menuju kesembuhan jiwa, tetapi juga menuju kesembuhan badan, kalau itu sesuai dengan kehendak Allah Bdk. Konsili Firense: DS 1325.. Dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni (Yak 5:15) Bdk. Konsili Trente: DS 1717.
1521 Persatuan dengan sengsara Kristus. Oleh rahmat Sakramen ini, orang sakit menerima kekuatan dan anugerah untuk mempersatukan diri lebih erat lagi dengan sengsara Tuhan. Ia seakan-akan ditahbiskan untuk menghasilkan buah melalui keserupaan dengan sengsara Juru Selamat yang menebus. Sengsara sebagai akibat dosa asal, mendapat satu arti baru: ia menjadi keikutsertaan dalam karya keselamatan Yesus.

1522 Rahmat Gerejani. Karena "secara bebas menggabungkan diri dengan sengsara dan wafat Kristus, maka orang-orang sakit memberi sumbangan bagi kesejahteraan umat Allah" (LG 11). Dalam upacara Urapan Orang Sakit, Gereja mendoakan orang sakit di dalam persekutuan para kudus. Sebaliknya orang sakit menyumbangkan melalui rahmat Sakramen demi pengudusan Gereja dan kesejahteraan semua orang, untuk siapa Gereja menderita dan menyerahkan diri kepada Allah Bapa melalui Kristus.

1523 Persiapan untuk perjalanan terakhir. Kalau Sakramen Urapan Orang Sakit diberikan kepada mereka yang menderita penyakit berat atau kelemahan, maka lebih lagi kepada mereka yang siap berpisah dari hidup ini (mereka yang "rasanya sudah berada di akhir hidup ini": Konsili Trente: DS 1698). Karena itu ia dinamakan juga "Sakramen orang yang menghadapi ajal" (ibid.). Urapan Orang Sakit membuat kita secara definitif serupa dengan kematian dan kebangkitan Kristus yang telah dimulai oleh Pembaptisan. Ia menyempurnakan urapan-urapan kudus yang membina seluruh hidup Kristen: urapan Pembaptisan mencurahkan hidup baru bagi kita; Penguatan meneguhkan kita untuk perjuangan hidup ini. Urapan terakhir ini membekali akhir hidup kita di dunia ini dengan satu tanggul kuat berhadapan dengan perjuangan perjuangan akhir sebelum masuk ke dalam rumah Bapa.

Semoga melalui uraian ini, menjadi jelas bahwa Kristus sangat menghargai keutuhan manusia, jiwa dan raga. Ia tidak hanya peduli akan keselamatan jiwa kita namun juga kesehatan raga kita. Ia hendak menebus kita jiwa dan raga. Amin.

~IOJC (tu scis quia amo te)~
Renungan Pagi: "JANGAN MENANGIS!"
Selasa, 18 September 2012
Bacaan Injil: Luk 7:11-17


Kematian tubuh adalah batas kehidupan di dunia tapi kematian hati dan pikiran akan membuat hidupmu merana di atas dunia yang tercipta untukmu." Dalam keduanya engkau membutuhkan Yesus untuk memberi kelepasan dan kehidupan baru kepada jiwamu.

Lewat tindakan membangkitkan kembali pemuda di Nain, Yesus mengembalikan hidup bukan hanya kepada pemuda itu, tapi juga memulihkan martabat janda yang mengalami kesedihan dan keputusaan akibat kematian sang putra.

Karena itu, di tengah problem hidup yang menindimu saat ini, di tengah duka dan nestapa hatimu, di tengah himpitan duri-duri yang menusuk baik raga maupun jiwamu, Yesus mau mendatangimu di pagi ini dan berkata seperti Ia pernah berkata kepada janda yang bersedih karena kematian anak tunggalnya; "JANGAN MENANGIS....AKU DI SINI UNTUKMU, ANAK-KU!" Ya, jangan menangis karena Yesuslah satu-satunya sumber kebahagiaan jiwamu di tengah derita-deritamu. Dialah yang akan memulihkan hidupmu asalkan engkau percaya dan menggantungkan segala harapan hidupmu pada-Nya.

Berilah sebuah senyum kepada dunia karena sesungguhnya Yesuslah alasan jiwamu bersuka cita, dan wajahmu berseri di pagi ini, di sepanjang kehidupanmu.


Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabatnya,

***Duc in Altum***
Pertunjukan Ular

Seorang pemain sirkus memasuki hutan untuk mencari anak ular yang akan dilatih bermain sirkus. Beberapa hari kemudian, ia menemukan beberapa anak ular dan mulai melatihnya. Mula-mula anak ular itu dibelitkan pada kakinya.

Setelah ular itu menjadi besar dilatih untuk melakukan permainan yang lebih berbahaya, di antaranya membelit tubuh pelatihnya. Sesudah berhasil melatih ular itu dengan baik, pemain sirkus itu mulai mengadakan pertunjukkan untuk umum. Hari demi hari jumlah penontonnya semakin banyak. Uang yang diterimanya semakin besar. Suatu hari, permainan segera dimulai. Atraksi demi atraksi silih berganti. Semua penonton tidak putus-putusnya bertepuk tangan menyambut setiap pertunjukkan. Akhirnya, tibalah acara yang mendebarkan, yaitu permainan ular. Pemain sirkus memerintahkan ular itu untuk membelit tubuhnya. Seperti biasa, ular itu melakukan apa yang diperintahkan. Ia mulai melilitkan tubuhnya sedikit demi sedikit pada t
ubuh tuannya. Makin lama makin keras lilitannya. Pemain sirkus kesakitan. Oleh karena itu ia lalu memerintahkan agar ular itu melepaskan lilitannya, tetapi ia tidak taat. Sebaliknya ia semakin liar dan lilitannya semakin kuat. Para penonton menjadi panik, ketika jeritan yang sangat memilukan terdengar dari pemain sirkus itu, dan akhirnya ia terkulai mati.

Renungan : “Kadang-kadang dosa terlihat tidak membahayakan. Kita merasa tidak terganggu dan dapat mengendalikannya. Bahkan kita merasa bahwa kita sudah terlatih untuk mengatasinya. Tetapi pada kenyataanya, apabila dosa itu telah mulai melilit hidup kita, sukar dapat melepaskan diri lagi daripadanya.”

Selamat Pagi Berkah Dalem