Thursday, September 13, 2012

Keadilan harus diperjuangkan dengan cara yang mulia dan tak ternodai, dengan tidak berbuat dosa.

*"Beati pauperes spiritu!--"Berbahagialah mereka yang rendah hati."

Fratres,
Tentu banyak yg pernah mendengar prinsip 'The end does not justify the means', ya? Maksudnya, 'Tujuan Tidak Membenarkan Cara.' Artinya, walaupun tujuannya baik, tidak lantas segala macam cara dibenarkan untuk diperbuat untuk mewujudkan tujuan yang baik tersebut.

Kita mundur ke belakang, pada peristiwa final Piala Dunia 2006, Germany: French Vs Italia. Marco Materazzi memprovokasi Zinedine Zidane. Materazzi mengata-ngatai Zidane sebagai teroris dan saudara perempuan Zidane adalah pelacur. Zidane kemudian menanduk Materazzi. Kartu merah dihadiahkan kepada Zidane. Beberapa hari setelah final, yang dimenangkan Italia lewat penalti, Materazzi dihukum oleh FIFA dan diberikan sanksi sebagai hukuman.

"Two wrongs don't make a right."
Satu kesalahan tidak bisa ditambah kesalahan lainnya untuk kemudian menjadikan satu kebenaran. Sebuah frase yang cukup terkenal di dunia Barat, bahkan sering diadaptasi dalam film2 layar lebar Hollywood ataupun serial televisi yang mewarisi sedikit banyak nilai-nilai Gereja (meskipun mereka sekarang berusaha sekuat tenaga untuk membuang segala pengaruh Gereja dan diakui mencapai kesuksesan yang cukup besar). Ini adalah suatu prinsip yang sangat Katolik sekali.

Semangat dari prinsip ini mengajarkan bahwa meskipun kita dijahati, kita tidak bisa membalas perbuatan itu dengan kejahatan lainnya. Karena dengan melakukan kejahatan sebagai balasan atas tindakan kejahatan yang dilakukan pada kita, maka itu sama saja membenarkan adanya kejahatan.

Jadi kalau kita sudah membalas yang jahat dengan yang jahat, apa yang membedakakan kita dengan orang yang sudah menjahati kita? Sekalipun pembalasan kita yang jahat tersebut sama nilainya atau lebih kecil nilainya dari kejahatan yang dilakukan terhadap kita namun tetap saja kita telah memberi pembenaran terhadap yang jahat, yang relatif itu hanya terletak pada kadar atau tingkatan "nilai"-nya [saja], toh?

Pada akhirnya kita tidak berusaha untuk menjauhi yang jahat sama sekali, tapi melakukan kompromi dengan prinsip "minus malum" ("jahat minimal") yang super sesat itu.

Materazzi tentunya kurang ajar dan melanggar sportivitas karena lancang menghina orang yang dicintai Zidane, Lapindo bisa jadi punya kehendak buruk dan ingin lempar tanggung jawab, NAMUN SEMUA ITU TIDAK MEMBENARKAN PERBUATAN JAHAT APAPUN SEBAGAI BALASAN ATASNYA.

Materazzi, Zidane, telah bersalah karena melakukan kesalahan.

one wrong + one wrong =//= one right

one wrong + one wrong = two wrongs

Kondisi terpojok seperti apapun tidak membenarkan seseorang untuk berbuat dosa. Setiap orang diberi rahmat yang cukup untuk tidak berbuat dosa (1Kor 10:13). Karena itu tidak akan pernah ada kondisi terpojok yang satu-satunya jalan keluar adalah berdosa. Allah tidak akan mengijinkannya.

Hanya kelemahan manusia-lah yang membuat mereka mengira bahwa mereka harus berdosa untuk keluar dari masalah. Pemikiran seperti ini berarti MERASA LEBIH BIJAK DARIPADA Allah.

Sekalipun kamu lapar dan tidak punya uang atawa makanan, maka kalau kamu mencuri, maka kamu telah berdosa (bisa berat, bisa ringan). Sekalipun sebagai contoh perusahaan Lapindo tidak memberi uang sesenpun atau pemerintah cuek 100% pada hal tersebut sama sekali ini tidak membenarkan perbuatan dosa oleh para korban yang adalah penghinaan terhadap Allah dan tidak pernah boleh dilakukan.

Keadilan harus diperjuangkan dengan cara yang mulia dan tak ternodai, dengan tidak berbuat dosa.

Mentalitas kebanyakan orang yang dengan gampang membenarkan perbuatan dosa menjadi motivasi untuk meneruskan pengajaran kuno Gereja yang selalu sama sampai akhir jaman ini. Terutama karena pada masyarakat yang tidak berbudaya Kristen seperti di Republik kita tercinta ini yang kurang terbiasa atau bahkan tidak pernah mendengar prinsip ini (Two wrongs don't make a right).

Bahkan, kalau tidak salah, pada pengajaran "sebelah/tetangga" pernah bilang, "Kalau kamu dijahati maka balasalah dengan kejahatan yang serupa. Tapi kalau bisa ampunilah." Mungkin prinsip yang dikenal seperti inilah yang membuat masyarakat Indonesia, yang mayoritas non-Katolik, asing terhadap pengajaran"Two wrongs don't make a right" ini.

Lakukan apa yang bisa dilakukan tanpa berbuat dosa atau melanggar hukum.

Kalau memang satu-satunya tindakan yang bisa dilakukan untuk menarik perhatian adalah tindakan yang melanggar hukum atau dosa, ya JANGAN DILAKUKAN!

Btw, yang di atas ini tidak akanpernah terjadi.

"No act of sin, even venial one, is justifiable".

"Tidak pernah ada di dunia ini suatu kejadian atau kondisi di mana jalan keluarnya adalah dengan melakukan dosa." Ini dijamin Allah sendiri.

Allah memberi rahmat semua orang untuk menghindar dosa. Allah selalu mengajak manusia untuk tidak dosa. Ketika seseorang berdosa kepada orang lain maka dalam dosa tersebut, selain si orang lain telah tersalahi, otomatis rahmat Allah juga terabaikan, ajakan Allah juga terabaikan. Ini menghinakan Allah.

Setiap orang diberi rahmat yang cukup untuk tidak berbuat dosa (1Kor 10:13). Karena itu tidak akan pernah ada kondisi terpojok yang satu-satunya jalan keluar adalah berdosa. Allah tidak akan mengijinkannya.

Pada ajaran seberang, kita "harus membunuh" mereka yang menyerang kita. Sedangkan dalam GK kita tidak diperintahkan untuk membunuh, tetapi jika kita terpaksa membunuh dalam proses membela diri, hal itu tidak salah.

Dalam Gereja Katolik, membela diri tidak harus dengan cara membunuh. Tewasnya si agresor hanyalah salah satu hal yang bisa terjadi dari proses pembelaan diri. Itu tidak salah, tetapi juga bukanlah sebuah cara yang dianjurkan.

Dalam hukum, seperti yang diajarkan kepada semua Mahasiswa hukum di awal-awal kuliah mereka, berlaku prinsip, "hukum yang lebih tinggi mengalahkan hukum yang lebih rendah."

Ini juga berlaku di Indonesia. Di jaman otonomi bebas ini setiap provinsi bisa membuat hukum-hukum sendiri dengan cukup bebas. Namun tentunya tidak bisa hukum tersebut bertentangan dengan hukum KUHAP sebagai contoh.

Hukum ilahi adalah hukum tertinggi yang mengatasi segala hukum. Karena itu tidak ada yang boleh menentangnya.

Mengambil contoh mengenai larangan masuk agama Katolik, yang dipraktekkan banyak negara2 tertentu di Timur-Tengah (Pakistan, Saudi Arabia, Republik Islam Iran, dll) ini bertentangan dengan hukum ilahi, jadi tidak bisa diterima.

~ Para martir Kristen selalu berusaha menaati hukum negara Romawi yang kafir dan menindas mereka sepanjang tidak bertentangan dengan hukum ilahi.

~ Mereka membayar pajak kepada pemerintahan yang menindas mereka, dan menghormati Kaisar sebagai pimpinan negara.

~ Dan sejarah tidak mencatat pemberontakan atau gerakan separatis Kristen terhadap pemerintahan Romawi. Mereka taat kepada hukum negara dan kepada Allah.

~ Apapun itu kalau kamu berada dalam suatu negara yang hukumnya menurut kamu tidak adil. Moral Katolik menuntut kamu untuk menentangnya dengan cara-cara yang tidak melanggar hukum ilahi dan hukum negara yang bersangkutan.

Semoga pembagian kumpulan penerusan pengajaran moral Gereja ini dapat dimengerti dan bermanfaat.

*"Beati pauperes spiritu!--"Berbahagialah mereka yang rendah hati."

[+In Cruce Salus, Pada Salib Ada Keselamatan. Thomas A Kempis, Imitatione Christi, II, 2, 2)
*Kalimat ini diambil dari Kitab Suci Perjanjian Baru Injil Matius 3:5 yang lebih kita kenal sebagai 'Khotbah di Atas Bukit'.

**Credit to DeusVult, Evangelos.
"AKU HANYA PERLU DIBERRI KESEMPATAN, PAK!"


Keluar dari pintu kereta api siang di station Katipunan-Quezon City, Filipina, di dekat tempat kostku, aku berjalan santai menuju eskalator...(tidak seperti biasanya selalu berlari cepat untuk menjadi nomor satu yang naik eskalator sambil memandang para penumpang lain yang seakan menyerbu eskalator...soalnya tiap saat rasa jengkel juga melihat kebanyakan laki-laki Filipina yang biasanya berkejaran untuk menaiki elevator - mengejar waktu karena kesibukan mereka)...tiba-tiba terlihat seorang cacat kaki, yang sedang duduk di kursi rodanya sambil menunggu menjadi pengguna terakhir eskalator agar tidak mengganggu yang lain, yang mempunyai mata, kaki, tangan, telinga, otak dan hati seperti saudara dan aku, namun kadang kita tidak menggunakannya dengan bijak.

Melihatnya, aku bergegas membantunya menggapai tangga eskalator...tapi tiba-tiba keluarlah kalimat singkat, padat yang membuatku hanya terpaku diam menatapnya tanpa sepata kata pun keluar membalasnya; "Pa, terima kasih...tidak usah bantu aku...Aku bisa melakukannya untuk diriku...Apa yang kubutuhkan hanyalah SEBUAH KESEMPATAN yang diberikan oleh orang lain untuk menggapai tangga eskalator ini. Akan tetapi, karena setiap orang seakan mengejar waktu, maka aku hanya menunggu menjadi orang terakhir." Teringatlah aku akan kisah penyembuhan si lumpuh di kolam Betesda;"...Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku."(Yoh 5:2-9)

Aku lalu melangkah mundur dari pintu masuk eskalator, dan membiarkan dia membawa dirinya dengan kursi rodanya memasuki - menaiki tangga eskalator itu dengan cara bertumpuh pada kekuatan kedua tangannya yang kekar di pinggiran sisi tangga eskalator. Aku yang ada di belakangnya hanya terkagum-kagum memandangnya, dan ada rasa sedih sesal menyergap tubuh dan jiwaku.

Jarak dari station kereta api ke tempat kostku yang biasanya hanya 20 menit berjalan kaki, kini harus kutempuh dengan durasi waktu hampir 40 menit hanya karena rasa yang berkecamuk di dalam jiwaku, sampai hampir-hampir ditabrak mobil...Sopir menindis klakson yang membuatku harus melompat ke pinggir jalan karena memang telah mengambil area jalan mobil.

Ya, aku sadar bahwa kadang aku sendiri tidak memberi kesempatan kepada orang lain, apalagi orang kecil dan papa, orang cacat, bahkan sesama sahabatku sendiri untuk mengekspresikan diri dan kemauan mereka dengan bebas. Sering aku tidak memberi peluang kepada mereka untuk menggapai impian-impiannya. Ya, dunia ini panggung sandiwara yang memberi kepada setiap orang kesempatan untuk menjadi pemeran, namun betapa seringnya kita memerankan peranan yang tidak sesuai dengan hati nurani kita.

Di sore/malam ini, kudatangi lagi engkau para sahabatku, dan mengingatkanmu untuk tidak lupa memberi kesempatan kepada siapa saja yang ada bersamamu untuk menggapai impian-impian mereka dengan bebas....Apa yang mereka butuhkan mungkin tidak selamanya bantuan materi dan uang, tapi hanyalah sebuah hati yang mampu memberi mereka sebuah kesempatan dan peluang untuk dapat melakukan apa yang bisa mereka lakukan sesuai dengan cita dan impian mereka. Mungkin mereka yang di luar rumah sangatlah jauh untuk kau gapai, tapi ingatlah masih ada sesamamu yang paling dekat, yakni yang sekantor, seperusahaan, bahkan yang serumah denganmu. Sungguh, mereka menanti kesempatan dan peluang yang terberi dari ketulusan hatimu.

Akhirnya, bila saja kita mau untuk melakukan hal ini, selalu memberi kesempatan dan bahagia melihat orang lain menggapai impian, cita dan cinta mereka, maka betapa indahnya dunia ini karena sesungguhnya "surga telah mendarat di duniamu, duniaku, dan dunia kita bersama.


Goresan hati seorang sahabat untuk para sahabatnya,

***Duc in Altum***

Monday, September 10, 2012

Fratres,
Gambar ini adalah foto asli seperti yang disiarkan oleh televisi Jepang pada Oct. 13, 1973.

Penampakan mukjizat perawan tersuci Santa Maria di Akita, Jepang kepada Sr Agnes Sasagawa yang diakui oleh Tahta Suci, Vatikan.

Peristiwa-peristiwa yang merupakan awal dari serangkaian peristiwa adikodrati yang berlangsung selama SEMBILAN TAHUN lamanya sejak 1973 hingga tahun 1982.

Ulasan singkat dapat di baca pada tautan di bawah ini:
< http://bundapenolongabadi.blogspot.com/2010/04/santa-maria-dari-akita.html >

Para Abdi Ekaristi adalah sebuah komunitas religius sekular di Yuzawadai, pinggiran kota Akita, yang dibentuk oleh Uskup Akita, Mgr Yohanes Shojiro Ito. Pada tanggal 12 Mei 1973 Sr Agnes Katsuko Sasagawa, yang pada waktu itu berusia 42 tahun, seorang pemeluk Budha yang baru beberapa tahun menjadi Katolik, bergabung sebagai novis di sana.

Ketika masuk, Sr Agnes baru saja kehilangan pendengarannya dan sama sekali tuli tanpa dapat disembuhkan.

Peristiwa mukjizat pertama di Akita terjadi pada tanggal 12 Juni 1973, hanya satu bulan setelah Sr Agnes bergabung. Pada hari itu, ia sedang seorang diri saja di kapel biara. Saat ia sedang membuka pintu tabernakel, sekonyong-konyong memancarlah suatu cahaya kemilau dari tabernakel; serta-merta Sr Agnes merebahkan diri di lantai dan tetap dalam keadaan prostratio demikian hingga sekitar satu jam lamanya, takluk oleh suatu kekuatan yang mahadahsyat.

Pada tanggal 14 Juni 1973, Sr Agnes kembali melihat cahaya kemilau dari tabernakel, kali ini dilingkupi oleh suatu nyala api merah yang kuat, yang memancarkan berkas-berkas cahaya ke segala penjuru. Lagi, pada sore hari menjelang Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus tanggal 28 Juni, ia melihat cahaya kemilau dari tabernakel, kali ini tampak juga begitu banyak makhluk serupa para malaikat yang mengelilingi altar dalam sembah sujud di hadapan Sakramen Mahakudus. Keesokan harinya, yang adalah Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus, malaikat menampakkan diri sementara Sr Agnes hendak memulai berdoa rosario. Malaikat kemudian memintanya untuk menambahkan kata “sungguh” dalam doa yang disusun Uskup Ito bagi komunitas. Sejak saat itu, doa ditujukan kepada “Hati Yesus yang Mahakudus, yang SUNGGUH hadir dalam Ekaristi Kudus.” Peristiwa-peristiwa ini merupakan awal dari serangkaian peristiwa adikodrati yang berlangsung selama sembilan tahun lamanya dari tahun 1973 hingga tahun 1982.

Suster Agnes dan Malaikat Pelindung
Ketika diminta untuk menggambarkan malaikat pelindungnya, Sr Agnes menjawab, “wajahnya bulat, dengan ekspresi yang manis … seorang yang diliputi oleh suatu kemilau putih bagai salju ….” Malaikat pelindung mempercayakan banyak pesan kepadanya, kerapkali berdoa bersamanya, pula membimbing serta menasehatinya.

Sore hari pada Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus tanggal 28 Juni 1973, Sr Agnes mendapati suatu luka berbentuk salib muncul di telapak tangan kirinya. Luka ini menimbulkan rasa sakit yang luar biasa hingga Sr Agnes mengatakan, “Tak akan pernah aku dapat melupakan rasa sakit itu.” Pada tanggal 5 Juli 1973, suatu lubang kecil muncul di tengahnya darimana darah mulai memancar. Malaikat pelindungnya menampakkan diri dan membimbingnya untuk melakukan silih kepada Hati Yesus yang Mahakudus bagi dosa-dosanya dan bagi dosa-dosa segenap umat manusia.

Stigmata yang Berdarah
Keesokan harinya, pada tanggal 6 Juli 1973, malaikat pelindung kembali menampakkan diri kepada Sr Agnes, “… Luka Bunda Maria jauh lebih dahsyat dan lebih menyengsarakan daripada lukamu. Marilah kita pergi berdoa bersama di kapel.” Setelah memasuki kapel, malaikat menghilang. Sr Agnes kemudian berpaling kepada patung Bunda Maria yang terletak di sisi kanan altar.

Patung ini, yang tingginya kira-kira tiga kaki, diukir dari sebatang kayu utuh yang kering dan keras tanpa sambungan, menggambarkan Santa Perawan Maria berdiri di depan sebuah salib, dengan kedua tangannya direntangkan ke arah bawah. Di bawah kaki patung, terdapat sebuah bola yang menggambarkan dunia. Saburo Wakasa, seorang pemahat Jepang beragama Budha, memahat patung ini sekitar tigapuluh tahun yang lalu dengan mempergunakan sehelai kartu bergambar “Bunda Segala Bangsa” sebagai model, sembari menambahkan profil wajah khas perempuan Jepang dalam patungnya.

Sr Agnes mengenang saat itu, “Aku merasa bahwa patung kayu itu menjadi hidup dan hendak berbicara kepadaku … Ia bermandikan cahaya yang cemerlang … dan pada saat yang sama, suatu suara yang merdu tak terperi menembusi telingaku yang sama sekali tuli.”

Bunda Maria berkata kepadanya, “Jangan takut. Engkau akan disembuhkan. Bersabarlah ….”

Kemudian Bunda Maria bersama Sr Agnes bersama-sama mendaraskan doa komunitas yang disusun Uskup Ito. Pada kata-kata “Yesus yang hadir dalam Ekaristi,” Maria mengatakan, “Mulai sekarang, kalian akan menambahkan SUNGGUH.” Bersama dengan malaikat yang muncul kembali, ketiganya mendaraskan doa persembahan diri kepada Hati Yesus yang Mahakudus, yang SUNGGUH hadir dalam Ekaristi. Sebelum menghilang, Bunda Maria meminta Sr Agnes untuk “berdoa banyak-banyak bagi Paus, para uskup dan para imam.”

Keesokan paginya, ketika para biarawati berkumpul bersama untuk mendaraskan Laudes, mereka mendapati darah mengalir dari telapak tangan kanan patung dan juga luka berbentuk salib; di tengah luka terdapat sebuah lubang darimana darah memancar. Luka itu mirip benar dengan luka pada telapak tangan kiri Sr Agnes, hanya saja, karena patung itu kecil maka lukanya juga lebih kecil. Luka itu memancarkan darah pada setiap malam Jumat dan sepanjang hari Jumat, begitu juga luka di tangan Sr Agnes. Yang menarik, tetesan darah mengalir sepanjang tangan patung, yang terentang dan mengarah ke bawah, namun tetesan-tetesan darah itu tidak pernah jatuh dari tangan.

Rasa sakit yang diderita Sr Agnes terus berlanjut hingga pada suatu Jumat siang tanggal 27 Juli, menjadi begitu hebat nyaris tak tertahankan. Ia pergi ke kapel guna mendapatkan penghiburan dan prostratio dalam doa. Sejenak kemudian, ia mendengar suara malaikat pelindungnya, “Penderitaanmu akan berakhir hari ini.” Malaikat kemudian menghilang dan rasa sakit di tangannya lenyap seketika; lukanya telah sembuh sama sekali tanpa meninggalkan bekas sedikit pun.

Luka di tangan patung Bunda Maria tetap tinggal hingga kurang lebih dua bulan tiga minggu lamanya dan lenyap dengan sendirinya pada tanggal 29 September 1973.

Pada ibadat sore tanggal 29 September itu, seluruh komunitas melihat suatu cahaya cemerlang yang berasal dari patung. Seketika itu juga sekujur tubuh patung diliputi oleh suatu embun serupa keringat. Malaikat pelindung berkata kepada Sr Agnes, “Bunda Maria bahkan terlebih sedih lagi daripada ketika ia mengucurkan darah. Keringkanlah keringatnya.” Dari “keringat” Bunda Maria ini tercium bau harum mewangi. Para biarawati mempergunakan gumpalan-gumpalan kapas untuk menyeka keringat. Cahaya kemilau yang meliputi patung pun perlahan-lahan lenyap.

Patung SP Maria Berubah Secara Ajaib
Menjelang akhir Mei 1974, suatu fenomena lain terjadi. Sementara gaun dan rambut patung tetap tampak sebagai kayu alami, tetapi wajah, kedua tangan dan kaki Bunda Maria berubah warna menjadi gelap, coklat kemerah-merahan. Delapan tahun kemudian, ketika sang pemahat datang untuk melihat patung ukirannya, tak mampu ia menyembunyikan rasa terkejutnya. Hanya bagian-bagian tubuh Santa Perawan yang kelihatan saja yang berubah warna, dan bahkan wajahnya pun telah berubah ekspresi.

SP Maria Meneteskan Airmata 101 Kali
Patung Bunda Maria mulai meneteskan airmata untuk pertama kalinya pada pagi hari Sabtu, tanggal 4 Januari 1975. Pada siang dan sore hari yang sama, patung kembali meneteskan airmata untuk kedua dan ketiga kalinya. Dalam jangka waktu 6 tahun 8 bulan, dari waktu ke waktu patung Bunda Maria meneteskan airmata; terakhir kalinya, yang ke-101 kalinya terjadi pada tanggal 15 September 1981, pada peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita.

Tigabelas hari sesudahnya, pada tanggal 28 September, Sr Agnes merasakan kehadiran malaikat di sampingnya, di depan Sakramen Mahakudus yang ditahtakan, pada saat doa hening sesudah pendarasan rosario bersama oleh para biarawati di kapel. Ketika itu Sr Agnes tidak melihat sosok sang malaikat, melainkan muncul di hadapannya suatu penglihatan misterius akan sebuah Kitab Suci yang agung dan mulia, yang dilingkupi oleh suatu cahaya surgawi. Malaikat memintanya untuk membaca suatu ayat dalam Kitab Suci. Dari halaman Kitab Suci yang terbuka, Sr Agnes dapat melihat referensinya - Kitab Kejadian bab 3 ayat 15. Kemudian ia mendengar suara malaikat yang mengatakan, sebagai pengantar, bahwa terdapat suatu hubungan yang luar biasa antara ayat ini dan Santa Perawan Maria yang menangis.

Malaikat selanjutnya mengatakan, “Terdapat suatu makna luar biasa dalam angka 101 dari patung Bunda Maria yang menangis sebanyak seratus satu kali. Hal ini menyatakan bahwa dosa masuk ke dalam dunia melalui seorang perempuan dan, demikian pula, melalui seorang perempuan rahmat keselamatan masuk ke dalam dunia. Angka nol, yang ada di antara dua “satu,” melambangkan Tuhan yang ada sepanjang kekekalan masa. “satu” yang pertama mewakili Hawa, dan “satu” yang terakhir mewakili Bunda Maria yang kudus.”

Kemudian malaikat meminta Sr Agnes untuk membaca kembali Kitab Kejadian bab 3 ayat 15, dan mengatakan, “Haruslah engkau menyampaikan pesan ini kepada imam Katolik yang memberikan bimbingan rohani kepadamu.” Lalu malaikat meninggalkannya. Pada saat yang sama, penglihatan akan Kitab Suci pun lenyap.

Segera sesudah adorasi Sakramen Mahakudus, Sr Agnes bergegas menemui P Thomas Teiji Yasuda SVD, pembimbing rohani Sr Agnes Sasagawa (beliau ditunjuk sebagai pembimbing rohani biara di Akita oleh Uskup Ito pada tahun 1974 - setahun sebelum patung Bunda Maria menangis). Imam membuka Kitab Suci dan mendapati ayat yang mencatat pemakluman nubuat Tuhan kepada setan, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Berikut penjelasan P Teiji Yasuda, “Adalah karena pesan malaikat, yang mengutip Kitab Kejadian bab 3 ayat 15, maka makna luar biasa dari airmata Bunda Maria disingkapkan. Ini berarti bahwa airmata patung Bunda Maria berasal dari tujuan ilahi guna mengarahkan perhatian segenap umat Katolik Roma pada sengsara Maria di kaki Salib sebagai Coredemptrix (= Penebus Serta).

Airmata mukjizat diciptakan Tuhan demi mengajarkan kepada seluruh Gereja Katolik Roma bahwa Bunda yang kudus menderita sengsara dan mencucurkan airmata sebagai Bunda Yesus Kristus di tengah peran agung keikutsertaannya dalam penebusan, ketika ia memberikan persetujuan penuh atas persembahan kurban Putranya ….

St Paulus memperbandingkan Adam yang baru, Yesus Kristus, sang Penebus, dengan Adam yang lama, seorang pendosa. Dalam pesan Akita pada tahun 1981, Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk menyingkapkan perbedaan menyolok antara Hawa yang lama, yang mencobai Adam untuk berdosa, dan Hawa yang baru, Bunda Maria kita yang kudus, yang melahirkan sang Juruselamat. Seratus satu kali patung menangis menunjukkan kebenaran ini, bahwa Tuhan mempersatukan Maria sebagai bagian yang tak terpisahkan dari karya Penebusan-Nya, dari sejak kekekalan masa.”

Mukjizat Penyembuhan
Keotentikan kuasa adikodrati dari airmata yang mengalir dari patung Bunda Maria didukung serta diperkuat oleh dua mukjizat obyektif berikut.

Ny Teresa Chun Sun Ho, seorang ibu rumah tangga Korea Selatan, divonis menderita kanker otak pada tahun 1981. Kesehatannya semakin memburuk hingga ia jatuh koma dalam keadaan vegetatif. Keluarga, sanak saudara dan sahabat memohon dengan sangat kepada Santa Perawan Maria dari Akita demi kesembuhannya, dengan menempatkan selembar foto patung Bunda Maria yang menangis di samping bantalnya. Pada tanggal 4 Agustus, tengah malam, sementara Ny Teresa Chun masih dalam keadaan koma, Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dalam suatu penglihatan; ia tampak persis sama seperti di Akita. Teresa disembuhkan sama sekali dari penyakitnya. Berikut kesaksian Ny Teresa Chun, “Bunda Maria yang kudus dari Akita, yang membopong seekor anak domba putih dalam gendongannya, menampakkan diri kepadaku, ketika aku masih tergolek tak berdaya di pembaringan, dan menghembusi dahiku sebanyak tiga kali. Aku melihat bulu anak domba bergerak dan bergoyang-goyang karena kuatnya hembusan Bunda Tersuci.” Mukjizat ini diakui kebenarannya oleh Dr Gil Song Lee dalam suatu sertifikat kesehatan yang kemudian dikirimkan ke Tahta Suci.

Mukjizat kesembuhan yang kedua adalah dipulihkannya Sr Agnes dari ketulian pada tahun 1982. Sr Agnes kehilangan pendengarannya pada tanggal 16 Maret 1973. Ketika bergabung dalam komunitas, ia sama sekali tuli tanpa dapat disembuhkan. Sr Agnes dapat berbicara dan dapat memahami pembicaraan lewat gerakan bibir lawan bicaranya. Pada tanggal 18 Mei 1974, malaikat pelindung mengatakan kepadanya, “Telingamu akan dibuka pada bulan Oktober. Engkau akan dapat mendengar kembali. Engkau akan disembuhkan….” Pada tanggal 13 Oktober 1974, tepat seperti yang telah dinubuatkan malaikat pelindungnya, Sr Agnes untuk sementara waktu memperoleh kembali pendengarannya. Ia menjadi tuli kembali pada tanggal 7 Maret 1975. Pada Hari Raya Kabar Sukacita 1982, ia diberitahu bahwa segera ketuliannya akan “secara definitif disembuhkan agar karya Yang Mahatinggi digenapi.” Tahun yang sama, pada perayaan St Yosef Pekerja, malaikat memaklumkan kepada Sr Agnes “telingamu akan secara definitif disembuhkan pada bulan ini yang dipersembahkan kepada Bunda Maria. Telingamu akan disembuhkan, untuk terakhir kalinya, oleh Dia yang sungguh hadir dalam Ekaristi.” Kedua mukjizat penyembuhan ini terjadi tepat pada saat Pujian kepada Sakramen Mahakudus. Berikut seperti ditulis P Teiji Yasuda SVD,

“Sembilan tahun telah berlalu sejak ia kehilangan pendengarannya pada tahun 1973. Pada tanggal 30 Mei, pada Hari Raya Pentakosta, ia disembuhkan secara ajaib saat ia menerima berkat dari Sakramen Mahakudus dalam monstrans yang saya unjukkan dalam sembah sujud Ekaristi di kapel. Begitu berkat Sakramen Mahakudus diberikan, Sr Agnes mendengar lonceng adorasi yang dibunyikan oleh seorang biarawati. Mukjizat kesembuhan ini disahkan dalam suatu sertifikat kesehatan yang dikeluarkan oleh Dr Tatsuhiko Arai dari Rumah Sakit Palang Merah Akita.”

Peristiwa yang sungguh indah ini mengakhiri untuk selama-lamanya penampakan-penampakan, pesan-pesan dan peristiwa-peristiwa ajaib di Akita, yang seringkali disebut sebagai Fatima dari Timur.

Persetujuan Resmi Gereja
Uskup Yohanes Ito mengatur agar Profesor Sagisaka, M.D., seorang non-Kristiani, seorang ahli dalam bidang forensik, untuk melakukan penelitian ilmiah yang cermat serta seksama atas ketiga cairan, tanpa menyebutkan apa dan darimana cairan itu berasal. Hasilnya adalah, “Materia yang menempel pada kain kasa adalah darah manusia. Keringat dan airmata yang terkandung dalam dua gumpalan kapas berasal dari manusia.”

Pada tanggal 22 April 1984, Uskup Yohanes Shojiro Ito, ordinaris keuskupan di mana penampakan Bunda Maria terjadi, menerbitkan sepucuk surat pastoral di mana ia mengesahkan penghormatan kepada Bunda Tersuci dari Akita. Dalam surat pastoral tersebut, Uskup Ito memaklumkan keotentikan adikodrati dari ketiga pesan Bunda Maria, pesan-pesan malaikat dan peristiwa-peristiwa adikodrati lainnya yang terjadi atas seorang biarawati Jepang sejak 1973 di sebuah biara di Akita, Jepang Utara, yang ada dalam wilayah keuskupannya. Empat tahun kemudian, pada tanggal 20 Juni 1988, dalam kunjungan Uskup Ito ke Roma, Kardinal Joseph Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI), sebagai Prefek Kongregasi Ajaran Iman memberikan persetujuan atas isi surat pastoral Bapa Uskup.
------------------------------------------------------


"Orate, fratres!"--"Marilah kita berdoa",
Novena Tiga Salam Maria:

Bunda Maria, Perawan yang berkuasa, bagimu tidak ada sesuatu yang tak mungkin, karena kuasa yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepadamu. Dengan sangat aku mohon pertolonganmu dalam kesulitanku ini, janganlah hendaknya engkau meninggalkan aku, sebab aku yakin engkau pasti dapat menolong, meski dalam perkara yang sulit, yang sudah tidak ada harapannya, engkau tetap menjadi pengantara bagi Puteramu.

Baik keluhuran Tuhan dan penghormatanku kepadamu maupun keselamatan jiwaku akan bertambah seandainya engkau sudi mengabulkan segala permohonanku ini. Karenanya, kalau permohonanku ini benar-benar selaras dengan kehendak Puteramu, dengan sangat aku mohon, o Bunda, sudilah meneruskan segala permohonanku ini ke hadirat Puteramu, yang pasti tak akan menolakmu.

Pengharapanku yang besar ini, berdasarkan atas kuasa yang tak terbatas yang dianugerahkan oleh Allah Bapa kepadamu. Dan untuk menghormati besarnya kuasamu itu, aku berdoa bersama dengan St.Mechtildis yang kau beritahukan tentang kebaikan doa "Tiga Salam Maria", yang sangat besar manfaatnya itu.

Salam Maria ... (3X)
Bunda Maria yang baik hati, jauhkanlah aku dari dosa-dosa berat.

Perawan Suci yang disebut Tahta Kebijaksanaan, karena Sabda Allah tinggal padamu, engkau dianugerahi pengetahuan Ilahi yang tak terhingga oleh Puteramu, sebagai makhluk yang paling sempurna untuk dapat menerimanya.

Engkau tahu betapa besar kesulitan yang kuhadapin ini, betapa besar pengharapanku akan pertolonganmu. Dengan penuh kepercayaan akan tingginya kebijaksanaanmu, aku menyerahkan diriku seutuhnya kepadamu, supaya engkau dapat mengatur dengan segala kesanggupan dan kebaikan budi, demi keluhuran Tuhan dan keselamatan jiwaku. Sudilah kiranya Bunda dapat menolong dengan segala cara yang paling tepat untuk terkabulnya permohonanku ini.

Bunda Maria, Bunda Kebijaksanaan Ilahi, sudilah kiranya Bunda berkenan mengabulkan permohonanku yang mendesak ini. Aku memohon berdasarkan atas kebijaksanaanmu yang tiada bandingnya, yang dikaruniakan oleh Puteramu melalui Sabda Ilahi kepadamu.

Bersama dengan St. Antonius dari Padua dan St. Leonardus dari Porto Mauritio, yang rajin mewartakan tentang devosi "Tiga Salam Maria" aku berdoa untuk menghormati kebijaksanaanmu yang tiada taranya itu

Salam Maria ... (3X)
Bunda Maria yang baik hati, jauhkanlah aku dari dosa-dosa berat.

Bunda yang baik dan lembut hati, Bunda Kerahiman Sejati yang akhir-akhir ini disebut sebagai "Bunda yang penuh belas kasih", aku datang padamu, memohon dengan sangat, sudilah kiranya Bunda memperlihatkan belas kasihmu kepadaku. Makin besar kepapaanku, makin besar pula belas kasihmu kepadaku. Aku tahu, bahwa aku tidak pantas mendapat karunia itu. Sebab seringkali aku menyedihkan hatimu dengan menghina Puteramu yang kudus itu. Betapapun besarnya kesalahanku, namun aku sangat menyesal telah melukai Hati Kudus Yesus dan hatikudusmu.

Engkau memperkenalkan diri sebagai "Bunda para pendosa yang bertobat" kepada St.Brigitta, maka ampunilah kiranya segala kurang rasa terima kasihku padamu. Ingatlah akan keluhuran Puteramu saja serta kerahiman dan kebaikan hatimu yang terpancar dengan mengabulkan permohonanku ini melalui perantaraan Puteramu.

Bunda Perawan yang penuh kebaikan serta lembut dan manis, belum pernah ada orang yang datang padamu dan memohon pertolongamu engkau biarkan begitu saja. Atas kerahiman dan kebaikanmu, aku berharap dengan sangat, agar aku dianugerahi Roh Kudus. Dan demi keluhuranmu, bersama St. Alfonsus Ligouri, rasul kerahimanmu serta pengajar devosi "Tiga Salam Maria", aku berdoa untuk menghormati kerahimanmu dan kebaikanmu.

Salam Maria ... (3X)
Bunda Maria yang baik hati, jauhkanlah aku dari dosa-dosa berat.

PS.
Novena Tiga Salam Maria berasal dari Santa Mechtildis. Ia mendapatkan pengalaman rohani dari Bunda Maria ketika ia cemas akan keselamatan hidupnya dan ia memohon Bunda Maria untuk membantunya saat kematiannya. Bunda Maria mengabulkan permohonannya dan meminta ia agar berdoa tiga kali Salam Maria.

Santo Antonius dari Padua, Santo Leonardus dari Porto Mauritio dan Santo Alfonsus de Liguori berjasa besar dalam mewartakan doa Tiga Salam Maria ini.

"Quidquid latine dictum sit, altum viditur.."--"Semoga apapun yang dikatakan dalam bahasa Latin, dipandang tinggi."

[+In Cruce Salus, Pada Salib Ada Keselamatan. ~Thomas A Kempis. 'De Imitatione Christi', II, 2, 2]

Sunday, September 9, 2012

Fratres,
pernahkah kalian mendengar tentang Kotbah [yang dapat] Berjalan?

Pada suatu sore di tahun 1953, para pejabat dan reporter berkumpul di stasiun Kereta Api Chicago menantikan kedatangan peraih Nobel Perdamaian tahun 1952. Seorang pria raksasa, setinggi 2 meter, dengan rambut acak-acakan dan kumis panjang melangkah ke luar dari Kereta Api.

Sementara juru foto sibuk memotretnya, para pejabatr kota mendekatinya dan berjabatan tangan seraya mengatakan alangkah mereka merasa diri terhormat dapat bertemu dengannya.

Ia berterima-kasih kepada mereka dengan sopan, kemudian, melihat kepala mereka dari atas, lalu mohon permisi sebentar. Ia berjalan menerobos kerumunan dan melangkah dengan cepat hingga mencapai seorang perempuan kulit hitam berusia lanjut yang tengah bersusah payah mencoba memikul 2 kopor besar turun dari Kereta Api.

Pria jangkung itu kemudian mengangkat kedua kopor itu, tersenyum dan menuntun perempuan tua itu menuju ke sebuah bus.

Setelah menolong perempuan itu, ia mengucapkan selamat jalan dan mengharapkannya perjalanan yang baik. Sementara itu, kerumunan orang banyak membuntutinya. Ia menoleh kepada mereka dan berkata. "Maaf, saya sudah membuat kalian menunggu."

Orang itu adalah Dr. Albert Schweitzer, dokter misi kesohor yang telah menghabiskan sebagian besar waktu dan hidupnya untuk membantu orang2 paling miskin di Afrika.

Seoranganggota penyambutan berkata kepada salah seorang reporter, "Inilah untuk pertama kali saya melihat sebuah kotbah berjalan". ~Brian Cavanaugh

*"Bis dat, qui cito dat!"--"Barangsiapa yang dapat memberikan dengan cepat, ia memberikan dua kali lipat."

[+In Cruce Salus, Pada Salib Ada Keselamatan. ~Thomas A Kempis. 'De Imitatione Christi', II, 2, 2]
*Dikutip dari ucapan Publius Syrus.
· ·
Renungan Malam: "TIDAK ADAKAH WAKTU BAGIMU UNTUK BERTERIMA KASIH?"

Kadang terjadi bahwa setiap orang selalu punya waktu dan senang menerima pemberian dari orang lain. Akan tetapi, selalu saja ada alasan dan bahkan halangan untuk memberi,... bahkan untuk berterima kasih saja atas pemberian orang lain, kita tidak mempunyai waktu untuk mengucapkannya.
"Tuhan mengijinkan jiwa untuk jatuh sehingga ia dapat tumbuh menjadi lebih rendah hati" - St. Teresa Avila