Sunday, September 23, 2012

Menaklukkan Mata Buta dengan Melukis

Pengalaman pahit dapat menghasilkan dua keadaan, yaitu: keadaan menjadi lebih baik atau justru menjadi lebih buruk. Oleh karena pilihan ada ditangan kita, pilihan manakah yang kita pilih? Keadaan akan menjadi lebih baik ketika kita mulai melakukan introspeksi diri dan menginventarisir kekuatan, kecendrungan alami, dan kemungkinan eksplorasi potensi diri. Sebaliknya, keadaan akan menjadi lebih buruk ketika kita memilih menyalahkan keadaan, orang lain atau siapapun yang dapat disalahkan.

Ketra Oberlander harus menelan pil pahit di dalam hidupnya. Ketika kariernya sebagai penulis di industri dot com Silicon Valley harus berakhir, pada saat yang bersamaan Ketra juga mengalami kerusakan mata parah.

Pada usia 4o tahun, Ketra menerima kenyataan bahwa ia buta dan tidak punya pekerjaan. Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi semua kesulitan ini?

Hidup bergantung kepada suami bukanlah pilihan yang bijak, dan hal itu tidak ada dalam kamus hidupnya. Bagaimanapun juga ia merasa harus melakukan sesuatu untuk mengatasi keadaan ini. Lalu apa yang harus dilakukan?

Ketra Oberlander yakin bahwa pasti ada solusi terbaik yang dapat menjadi jalan keluar bagi dirinya. Dan setelah melalui perenungan yang dalam, ia memutuskan untuk terus berjuang melakukan sesuatu yang berarti.

Solusi atas masalah mulai hadir ketika Ketra meminta suaminya untuk memotret close-up bunga di halaman rumahnya. Hasil foto ini lalu dimasukkan ke dalam komputer untuk dijadikan model lukisan bagi Ketra Oberlander.

Lalu, Ketra memperbesar gambar bunga sampai penuh di layar komputer dan menampilkan warna kontras yang maksimal. Hal ini harus dilakukan Ketra, karena matanya yang rusak hanya dapat melihat pada jarak 10 centimeter dari obejek.

Kemudian, dengan mendekatkan wajahnya ke layar komputer, Ketra mulai meniru model bunga ke dalam kain kanvas. Setiap kali melukis, ia harus bolak-balik mendekatkan wajahnya ke layar dan ke kain kanvas. Hanya dengan cara inilah ia dapat melukis sesuai objek yang dilihatnya.

Perjuangan yang melelahkan dan penuh dengan pengorbanan ini ternyata membawa hasil yang luar biasa. Lukisan bunga Ketra disukai dan dinilai bagus oleh teman-temannya.

Untuk lebih meyakinkan diri, bahwa lukisannya memang bagus dan mendapat respon positif, Ketra lalu menitipkan lukisannya pada sebuha pameran seni. Luar biasa! Bukan hanya dikagumi oleh banyak orang, malah lukisan Ketra mendapat penghargaan.

Penghargaan yang diterimanya, menguatkan hati Ketra untuk menekuni profesi baru, yaitu menjadi seorang pelukis. Sebuah keputusan yang benar yang akhirnya membawa dirinya mendapat penghargaan demi penghargaan.

Kini, Ketra Oberlander diusia 47 tahun, bukan hanya sekedar seorang pelukis handal, dia juga adalah konsultan seni dan pengusaha seni yang terkenal. Sungguh, Ketra telah berhasil menjadikan kepahitan menjadi kebaikan.

Menyerah terhadap keadaan bukanlah pilihan yang baik. Justru berusaha keras mengatasi keadaan pahitlah pilihan yang paling realistis. Walau tantangan tidak mudah dilalui, tapi kesuksesan hanya bagi orang yang berani menghadapi kesulitan dengan keterbatasan yang ada.

Bagaimana dengan kesulitan yang kita hadapi. Apakah kita sudah mengatasinya dengan gagah berani sehingga menghasilkan keadaan yang lebih baik? atau menyerah di pagi Senin ini? Mari kita melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Disini, saat ini, sekarang juga, tentunya ditambah lewat bantuan doa kepada Bapa di surga.

Tuhan memberkati kerja keras saudara. Amin
"SENYUMMU ADALAH CAHAYA JIWAMU"

Saturday, September 22, 2012

Kejujuran


  • SERIAL KATEKESE: MAKNA TERDALAM DARI DOA BAPA KAMI, DOA YANG SEMPURNA..

    Bagian 2: YANG ADA DI SURGA DIMULIAKANLAH NAMAMU, DATANGLAH KERAJAAN-MU, JADILAH KEHENDAKMU DI ATAS BUMI SEPERTI DI DALAM SURGA

    Yang ada di surga: Ya, kita mempunyai seorang Bapa di surga, yang mengasihi kita sedemikian rupa, sehingga tak menyayangkan Anak-Nya sendiri untuk wafat bagi kita, supaya dosa-dosa kita diampuni dan kita dapat mengambil bagian dalam kehidupan ilahi-Nya.[4]

    Dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu: Ini merupakan kerinduan kita agar semakin banyak orang dapat mengenal Allah yang mulia dan kudus.[5] Dan ini juga seharusnya disertai dengan keinginan kita untuk dipakai Allah sebagai alat-Nya untuk memuliakan nama-Nya. “Dimuliakanlah nama-Mu, ya Tuhan, dalam keluargaku, pekerjaanku, perkataanku, segala sikapku….; Jadilah Engkau Raja dalam rumahku, pekerjaanku, studiku, dalam pikiran dan perbuatanku.” Ini mengingatkan kita agar kita jangan mencari dan mengejar kemuliaan diri sendiri dalam segala sesuatu, karena segala sesuatu yang ada pada diri kita sesungguhnya adalah milik Tuhan dan harus kita gunakan untuk kemuliaan nama Tuhan. Dan agar dalam setiap keputusan dan tindakan yang kita ambil, kita dapat menomorsatukan Tuhan, kiranya, keputusan/ tindakan apa yang terbaik yang bisa kulakukan untuk lebih memuliakan Tuhan?

    Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga: Ketaatan dan penyerahan diri pada kehendak orang lain mensyaratkan kerendahan hati, demikian pula penyerahan diri yang total kepada Tuhan. Sering manusia berkeras dalam memohon sesuatu kepada Allah, namun di sini kita melihat, Tuhan Yesus sendiri mengajarkan kepada kita untuk berserah kepada Allah Bapa. Sebab Bapa yang Maha Pengasih mengetahui apa yang kita butuhkan dan apa yang terbaik bagi kita, bukan saja untuk hidup kita di dunia, tetapi untuk hidup kita yang ilahi di surga kelak. Ungkapan penyerahan diri yang total ini mengingatkan kita akan doa Yesus di Taman Getsemani, “… tetapi bukanlah kehendak-Ku melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Luk 22:42). Karena ketaatan Yesus pada kehendak Bapa inilah, maka Ia menggenapi rencana keselamatan Allah Bapa, dengan wafat-Nya di salib dan kebangkitan-Nya. Semoga kitapun bisa taat dan menyerahkan diri kita secara total kepada Allah, sehingga kita dapat mengambil bagian dalam rencana keselamatan Allah bagi umat manusia.

    Sumber: Situs Katolisitas
    --Deo Gratias--
  • GERAKAN LIMA RIBU untuk Gereja Katolik yang kurang layak di Pelosok Indonesia

    GERAKAN LIMA RIBU adalah sebuah gerakan yang dipelopori oleh Facebook Page Gereja Katolik & Catholic Church untuk membantu gereja-gereja Katolik di pelosok Indonesia. Memberi 5 RIBU/10 RIBU PER BULAN tidak akan memberatkan dan membantu banyak orang untuk mau berbagi, karena tidak jarang jumlah seringkali membuat orang enggan untuk berbagi.

    Target ke-3 adalah Gereja St. Damian, Lukumihi, Paroki St. Andreas, Ngallu, Keuskupan Weetebula. Gereja terpencil ini cukup sulit ditempuh dari pusat paroki, setengah ditempuh dengan sepeda motor dan setengah lagi dengan jalan kaki. Stasi Lukumihi memiliki umat sekitar 200 jiwa dan banyak simpatisan Katolik dari Agama Marapu (agama lokal). Setelah puluhan tahun berdiri, beginilah keadaan gereja tersebut, menanti perhatian kita untuk diperbaiki.. Mari kita bantu dengan 5 ribu kita..
    ...See More

RENUNGAN MALAM

Silahkan share ke teman2 terkasih:

Di Tiongkok pernah ada seorang guru yg sangat dihormati krn tegas & jujur.


Suatu hari, 2 murid menghadapn sang guru. Mereka bertengkar hebat & nyaris beradu fisik.

Keduanya berdebat ttg hitungan 3x7.

Murid pandai mengatakan 21,
Murid bodoh bersikukuh mengatakan 27.

Murid bodoh menantang murid pandai utk meminta GURU sbg Jurinya utk mengetahui siapa yg benar di antara mereka, sambil si bodoh mengatakan: "Jika sy yg benar 3 x 7 = 27 maka km hrs mau di cambuk 10 kali oleh GURU, tapi jika kamu yg benar ( 3x7=21 ) maka sy bersedia utk memenggal kepala sy sendiri ha ha ha ....." demikian si bodoh menantang dgn sangat yakin akan pendapatnya

"Katakan GURU mana yg benar?"
tanya murid bodoh

Ternyata GURU memvonis cambuk 10x bagi murid yg pandai (orang yg menjwb 21).

Si murid pandai protes keras!!

GURU menjawab:
"Hukuman ini bkn utk hasil hitunganmu,tp utk KETIDAK ARIFANmu yg mau2nya berdebat dgn org bodoh yg tdk tau kalo 3x7 adalah 21"

Guru melanjutkan: "Lebih baik melihatmu dicambuk & menjadi ARIF drpd GURU hrs melihat 1 nyawa terbuang sia2 dlm kebodohannya!"

Pesan yang kita bangun,

Jika Kita sibuk memperdebatkan sesuatu yg tidak berguna
berarti Kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah dari pada org yg memulai perdebatan. Sebab dgn sadar Kita membuang waktu & energi utk hal yg tdk perlu.

Bukankah Kita sering mengalaminya?

Bisa terjadi dgn Pasangan Hidup, rekan Kerja, Tetangga/Kolega, dll

Berdebat atau bertengkar utk hal yg tdk ada ujung dan hasil kesimpulannya , hanya akan menguras energi kita.

Ada saatnya lebih baik Kita diam utk menghindari perdebatan atau pertengkaran yg sia2 yang bahkan bisa menyebabkan perpecahan dan perselisihan.

DIAM bukan berarti KALAH, bukan!!?

DIAM mengajarkan kebodohan untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya. Dan kebodohan yang terus menerus terjadi karena tidak pernah mencari kebenaran sesungguhnya mencarikan jalan jalan cepat menuju kehancuran hidup.

Jadilah pintar karena merasa bodoh dan selalu ingin terus belajar menjadi baik dan benar dan janganlah bodoh karena belajar dari hal hal bodoh yang tak memberimu pelajaran yang benar.

Selamat Malam, Berkah Dalem

Friday, September 21, 2012

Renungan Pagi

Mari saudara terkasih dalam Kristus yang saat pagi ini sedang melakukan banyak aktifitas, bacalah dan renungkanlah cerita di bawah ini, agar hati dan jiwa kita makin tentram dan damai dalam memaknai setiap detik hidup ini.

Konon, ada seorang raja muda yang pandai. Ia memerintahkan semua mahaguru terkemuka dalam kerajaannya untuk berkumpul dan menulis semua kebijaksanaan dunia ini. Mereka segera mengerjakannya dan empat puluh tahun kemudian, mereka telah menghasilkan ribuan buku berisi kebijaksanaan. Raja itu, yang pada saat itu telah mencapai usia enam puluh tahun, berkata kepada mereka, “Saya tidak mungkin dapat membaca ribuan buku. Ringkaslah dasar-dasar semua kebijaksanaan itu.”

Setelah sepuluh tahun bekerja, para mahaguru itu berhasil meringkas seluruh kebijaksanaan dunia dalam seratus jilid.
“Itu masih terlalu banyak,” kata sang raja. “Saya telah berusia tujuh puluh tahun. Peraslah semua kebijaksanaan itu ke dalam inti yang paling dasariah.

Maka orang-orang bijak itu mencoba lagi dan memeras semua kebijaksanaan di dunia ini ke dalam hanya satu buku.
Tapi pada waktu itu raja berbaring di tempat tidur kematiannya.

Maka pemimpin kelompok mahaguru itu memeras lagi kebijaksanaan-kebijaksanaan itu ke dalam hanya satu pernyataan, “Manusia hidup, lalu menderita, kemudian mati. Satu-satunya hal yang tetap bertahan adalah cinta.”

Saudara terkasih, mau apapun yang ada di dunia ini, setiap umat manusia tak akan terhindar dari kehidupan cinta. Pagi ini bawalah seluruh cintamu yang ada di hati kepada semua orang-orang yg peduli dan sayang denganmu, bawalah cinta kepada mereka yang membenci dan mencibirmu, bawalah cinta yang telah mereka lukai dan robek itu dengan kententraman hatimu, jika seandainya cintamu bersambut artinya mereka juga mempunyai cinta yang sama, yang mengerti dan memahamimu, beningkan dunia dan cerahkan hari ini dengan sejuta cinta di setiap hati manusia di dunia ini.

Pagi yang indah Bapa, terimakasih atas cinta yang telah Engkau beri dan ajarkan kepada kami. Amin'

Selamat Pagi, Berkah Dalem

Thursday, September 20, 2012


Fratres,
Sto Josemaria Escriva, pendiri Opus Dei mengajarkan kita:
#338 Dahulu kala, di mana pengetahuan manusia---ilmu pengetahuan---itu sangat terbatas, agak mungkin bahwa seorang terpelajar sanggup mempertahankan dan membela seorang diri iman kita yang suci.

Pada zaman sekarang ini, dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan modern, pembela-pembela iman haruslah membagi tugas di antara mereka untuk membela Gereja secara ilmiah di segala bidang.

Engkau tidak dapat menghindari diri dari tanggung jawab ini."

Secara umum, terdapat tujuh pertimbangan berkaitan dengan cara kamu dan saya di dalam MENJELASKAN IMAN dan atau pun di kala dituntut untuk melakukan PERTANGGUNG-JAWABAN terhadap iman kita yang satu, kudus, katolik dan apostolik.

"Kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni,"

Pedoman di atas itu datang dari AMANAT rasul Sto. Petrus pada ayat 3:15-16
“15 Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,

16 dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.. “

1. Kita sama sekali tidak akan dapat melakukannya kecuali kalau kita dan orang yang menantang iman tersebut bersikap benar dan jujur. Satu-satunya alasan yang membuat setiap orang percaya segala sesuatu adalah karena hal itu benar. Jika suatu kelompok percaya akan kebenaran tertentu sementara kelompok lainnya tidak, maka tidak akan terjadi dialog yang mendalam di antara kedua belah pihak.

2. Jika kita tidak dapat bertukar pendapat dengan sesama dalam suatu semangat cinta, maka sebaiknya kita tidak bertukar pendapat dengan mereka. Allah sendiri berkata, “Marilah, baiklah kita bermufakat” (Yes 1:18, terjemahan secara literal).

Perundingan dengan tujuan “Saya menang, Anda kalah” adalah perundingan yang gagal, karena meskipun argument yang kamu sampaikan menang, kamu akan kehilangan sesamamu. Di atas semuanya itu, kita harus memenangkan sesamamu DAN BUKAN memenangkan SUATU pendapat (1Kor 9: 19-22).

“19 Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.

20 Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.

21 Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.

22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.”

Fratres,
Orang2 hanya akan percaya dengan seseorang yang mau mendengarkan orang lain.

Biarkanlah sesamamu itu menyampaikan alasan-alasan atas kepercayaannya.

Jadi pertama-tama, dengarkanlah, dengan sungguh-sungguh.

Kedua, ajukan pertanyaan kepadanya. Jadi, mula-mula jadilah muridnya dan biarkanlah dia menjadi gurumu.

Kemudian yang ketiga, temukanlah kelemahan dalam hal apa dia percaya dan ajukanlah pertanyaan tentangnya. Tertariklah dengan kepercayaannya dan dia mungkin akan tertarik dengan kepercayaanmu.

Bacalah Kis 17:16-34 untuk melihat cara Sto. Paulus menggunakan metode ini.

3. Pertimbangan-pertimbangan imanmu tidak membutuhkan bukti-bukti saintifik atau seilmiah atawa canggih. Ketika kita berbicara tentang orang, dan alasan-alasan mempercayai orang, kita tidak membutuhkan bukti-bukti canggih, kita hanya membutuhkan pertimbangan yang baik maupun petunjuk yang benar. Kita menambahkan bukti-bukti saintifik hanya pada hal-hal yang ada di dunia ini. Allah bukan sesuatu yang ada di dunia. Dia adalah Pribadi yang menciptakan dunia (Kej 1:1; Kej 1: 4).

4. Janganlah bersandar pada kecerdasan diri sendiri saja, tetapi terutama kepada Allah. “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” (Mzm 127:1). Hal ini berlaku untuk bangungan ide (argument) dan juga bangunan diri (iman) kita, sebagai Gereja yang dibangun di atas Simon Kefas sang batu karang dan bukan di atas pasir.

Kita ini sebatas hanya bisa menyediakan semua sarana bagi Allah yang dapat Ia pergunakan dari kita.

Dia berkarya di dalam hati manusia.

PENTING:
Kita tidak dapat mengubah siapa pun. Hanya Allah yang dapat melakukannya. Meskipun begitu, kita DAPAT MENABURKAN BENIH kepada sesama di sekeliling untuk kemudian dikembangkan oleh Allah bukan?

Menjalankan tugas perutusan setiap kita yang kita terima dan bawa pulang setiap hari Minggu pada berkat penutup, “Ite, Missa est”—“Pergilah, kalian diutus.”

5. Janganlah takut untuk beradu argument dengan orang-orang yang tidak percaya, PUN tidak soal seberapa cerdas engkau dibandingkan dengan orang itu. Engkau memiliki sesuatu yang tak kunjung padam di pihakmu: yakni kepenuhan kebenaran; absolute truth. Percayalah, tidak akan ada nada argument yang valid yang dapat melawan iman Katolik kita yang kudus. Tidak akan ada pertentangan yang sungguh sanggup memisahkan iman dan akal budi, atau antara iman dan sains, atau iman dan logika. Semua kebenaran adalah kebenaran Allah, dan Allah tidak mengandung kontradiksi di dalam diri-Nya sendiri. Ini dijamin oleh Allah sendiri.

6. Ingatlah bahwa, bahwa manusia itu terutama digerakkan lebih oleh hati dibandingkan oleh akal mereka. Tunjukkanlah kepada mereka cinta Allah dan mereka akan mau percaya kepada-Nya.

Orang-orang tidak percaya terutama karena mereka salah paham dan takut: mereka mungkin berpikir bahwa Allah adalah seperti manajer bank di angkasa, atau penjaga buku, atau polisi.

Ingatlah fakta bahwa dunia dan peradaban di dunia ini diubah oleh Allah melalui 12 petani, nelayan, tabib (para 12 rasul pertama) dan aneka macam profesi yang terbukti sanggup menunjukkan siapa Allah itu sesungguhnya kepada mereka2 yang pada awalnya tidak percaya, bukan?

7. Ketika berjumpa dengan sesama orang Kristiani, hal pertama yang ingin mereka lakukan bukan ingin mempertanyakan atau membuktikan eksistensi Allah, keilahian Kristus, atau otoritas Ilahi Gereja. Itu soal lain.

Ketika berjumpa dengan orang Kristiani atau sesama umat Gereja Allah, reaksi orang-orang adalah “kami juga ingin memiliki apa saja yang kalian miliki.” Orang Kristiani umumnya akan berkata, “Yang kami miliki adalah Yesus.” Lalu setelah mengetahui Kristus melalui orang Kristiani, mereka ingin mengenal Allah melalui Kristus. Hal seperti itu sungguh terjadi dan terbukti dari sekian diskusi yang selama ini terjadi pada beberapa posting di sini, fratres.

Iman adalah sesuatu yang mengagumkan untuk dibagi-bagikan. Iman selalu membawa kebahagiaan, dan kebahagiaan pula kepada diri kita pribadi pada saat dibagi-bagikan. Karena Warta Gembira, Kabar Baik yang kita teruskan. Menjadi terang dan garam. Tetapi, usaha untuk membagikan iman itu tentunya mesti dilakukan dengan lembut dan penuh hormat (1Pet 3:15).

"Damnant quod non intellegunt!"--"Mereka [baca: manusia itu cenderung untuk] menyalahkan/mengutuk apa yang mereka tak mengerti."