Tuesday, January 8, 2013

::Beriman PENUH::

Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.(Why 3:16)


Orang yang bimbang janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. (Yak 1:7-8)

Jika Kristus yang kita ikuti dan kita percayai, mengapa kita tidak mempercayaiNya seratus persen. Kita akan rugi sendiri dalam hal waktu dan tenaga bila kita mempercayai Kristus dan ajaran GerejaNya setengah-setangah. Kita bisa membandingkan orang yang berlari memakai sandal dan yang memakai sepatu. Kita bisa menilai orang yang berlari memakai sandal, seolah tidak serius dalam berlari mencapai tujuan. Jika seharusnya ia bisa sampai di tujuan dalam 1 jam, ia mungkin baru sampai dalam 4 jam dengan tenaga yang lebih banyak terbuang atau mungkin malah tidak sanggup mencapai tujuan.

Kepercayaan kita kepada Kristus dan GerejaNya Katolik bukanlah kepercayaan buta, karena kita memiliki ribuan saksi-saksi iman, dimulai dari para rasul, martir dan santo-santa. Mereka adalah orang-orang yang paling mirip Kristus dalam menjalani kehidupan di dunia ini dan mereka mengalami kebahagiaan adikodrati sejak di dunia ini dan berakhir di surga. Tidak semuanya orang-orang sukses dalam keduniawian, tetapi mereka sukses dalam kebahagiaan surgawi sejak di dunia ini.

Kita mungkin mengalami beberapa kesulitan dalam memahami ajaran iman, tetapi kesulitan-kesulitan itu tidak sama dengan kebimbangan. Semoga Tuhan menambahkan iman kita.

salam.
::Beriman PENUH::

Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.(Why 3:16)


Orang yang bimbang janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. (Yak 1:7-8)

Jika Kristus yang kita ikuti dan kita percayai, mengapa kita tidak mempercayaiNya seratus persen. Kita akan rugi sendiri dalam hal waktu dan tenaga bila kita mempercayai Kristus dan ajaran GerejaNya setengah-setangah. Kita bisa membandingkan orang yang berlari memakai sandal dan yang memakai sepatu. Kita bisa menilai orang yang berlari memakai sandal, seolah tidak serius dalam berlari mencapai tujuan. Jika seharusnya ia bisa sampai di tujuan dalam 1 jam, ia mungkin baru sampai dalam 4 jam dengan tenaga yang lebih banyak terbuang atau mungkin malah tidak sanggup mencapai tujuan.

Kepercayaan kita kepada Kristus dan GerejaNya Katolik bukanlah kepercayaan buta, karena kita memiliki ribuan saksi-saksi iman, dimulai dari para rasul, martir dan santo-santa. Mereka adalah orang-orang yang paling mirip Kristus dalam menjalani kehidupan di dunia ini dan mereka mengalami kebahagiaan adikodrati sejak di dunia ini dan berakhir di surga. Tidak semuanya orang-orang sukses dalam keduniawian, tetapi mereka sukses dalam kebahagiaan surgawi sejak di dunia ini.

Kita mungkin mengalami beberapa kesulitan dalam memahami ajaran iman, tetapi kesulitan-kesulitan itu tidak sama dengan kebimbangan. Semoga Tuhan menambahkan iman kita.

salam.
KARENA BELAS KASIHANNYA MAKA IA MEMBERI KITA MAKAN

Renungan pagi hari Selasa, 8 Januari 2013

Cerita mukijizat yang terdapat dalam Injil hari ini biasanya disoroti pada aspek 'pergandaan roti dan ikan terhadap lima ribu orang". Kebanyakan dari kita akan melihat bahwa dasar dari terjadinya mukjizat itu adalah karena rasa lapar yang dialami oleh orang banyak. Kiranya, memandang kisah itu hanya pada aspek pemberian makan sama dengan mengurangi makna dari kisah. Jika kita membaca lebih cermat kisah "Yesus memberi makan lima ribu orang" (Mk 6:34-44), maka kita akan menemukan penyebab dasar dari mukjizat itu.

Dasar dari terjadinya mukjizat itu bukanlah karena rasa lapar yang dialami oleh kerumunan orang banyak tetapi karena BELAS KASIHAN dari Yesus. Sebagaimana tertulis dalam teks: "Yesus melihat sejumlah orang banyak, maka tergeraklah hatinya oleh BELAS KASIHAN kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Dia mengajarkan banyak hal kepada mereka" (ay 34). Di sini dengan nyata Yesus menaruh belas kasihan BUKAN karena kelaparan yang terjadi di kalangan orang banyak, tetapi karena mereka seperti domba tanpa gembala; tercerai-berai, tanpa pemimpin, tanpa ada yang melindungi dan menjaga, kehilangan tokoh pemersatu, kehilangan semangat karena tidak ada pemimpin spiritual yang tepat. Dan paling fatal adalah tidak ada yang dapat mengenyangkan 'kelaparan' rohani mereka. Inilah sebenarnya inti dan dasar terjadinya pemberian makan.

Karena itulah, Yesus tidak pertama-tama memberi mereka santapan jasmani. Ia lebih dulu mengajarkan kepada mereka banyak hal, Kerajaan Allah. Orang yang hidup pada masa Yesus ini sungguh diberkati. Mereka telah bertemu seorang yang mengenal kelaparan spiritual mereka dan mengenyangkan kelaparan itu. Mereka mendapat siraman rohani sekaligus juga makanan jasmani. Yesus menyadari kedua-duanya perlu untuk hidup manusia. Tetapi yang pertama Dia berikan adalah: SIRAMAN ROHANI.

Sangat masuk akal jika pada pagi hari perasaan kita sejuk dan damai jika kita bisa mendengar SIRAMAN ROHANI dari radio, televisi, internet, atau kotbah misa. Hati kita merasa damai jika kita bisa membaca renungan dan doa pagi atau ikut serta perayaan ekaristi pagi. Kita belum makan apa-apa di pagi hari tetapi rasanya sudah kenyang karena Sabda Tuhan sungguh menguatkan kita. Hidup kita terasa diberkati untuk sepanjang hari. Ada kekuatan baru untuk memulai aktivitas; memasak sarapan, menyapu rumah, mempersiapkan anak untuk sekolah, membereskan perlengkapan untuk ke kantor dan lain sebagainya. Itulah yang mau disampaikan Yesus bagi kita hari ini. Semoga kita tidak membiarkan hati kita kelaparan akan Sabda Allah, kelaparan secara rohani. Carilah dahulu kerajaan Allah maka yang lainnya akan ditambahkannya padamu. Amen. Selamat pagi

Deus Meus et Omnia

Monday, January 7, 2013

INSPIRASI PAGI

KISAH SERBUK PAHIT

Ada seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yg sedang dirundung problem dan masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.
Pak tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit & meminta anak muda itu u/ mengambil segelas air.

Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas & di aduk perlahan,
“Coba minum ini & katakan bagaimana rasanya?” ujar Pak tua
“Pahit sekali” jawab Pemuda itu
Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak pemuda itu utk berjalan ke tepi telaga di belakang rumahnya.
Mereka berjalan berdampingan & akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang itu.
Sesampai disana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu & dengan sepotong kayu ia mengaduknya,
“Coba ambil air telaga ini & minumlah”
Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua bertanya lagi,
“Bagaimana rasanya?”
“Segar” sahut si Pemuda
“Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu?” tanya Pak tua
“Tidak” sahut Pemuda

Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “Anak muda dengarkan baik-baik, pahitnya kehidupan sama seperti segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang” Jumlah & rasa pahitnya pun sama & memang akan tetap sama. Tapi kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari WADAH yang kita miliki.
Kepahitan itu akan di dasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya.

Jadi saat Anda merasakan kepahitan & kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yang dapat Anda lakukan :
“Lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu,
Luaskanlah hatimu utk menampung setiap kepahitan itu”
Saudaraku.. Hatimu adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu.
Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.
“Jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu & merubahnya menjadi kesegaran & kedamaian…”

SEMOGA BISA MENJADI RENUNGAN PAGI INI…

Selamat Pagi Berkah Dalem

Sunday, January 6, 2013

Thursday, January 3, 2013

Setiap insan punya kelebihan...

Mungkin kita berasa bahawa kita adalah insan yang paling susah, tapi. . .

Tuesday, January 1, 2013

MENGARAHKAN DAN MENYERAHKAN KERINDUANKU YANG TERBESAR KEPADA TUHAN

30 Desember 2012

PESTA KELUARGA KUDUS

1 Sam 1:20-22, 24-28; Mzm 84:2-3,5-6,9-10, 1 Yoh 3:1-2,21-24; Luk 2:41-52

Pada Pesta Keluarga Kudus, Gereja Katolik mengajak kita untuk menilik kehidupan dua perempuan yang berbeda dari zaman yang berbeda pula. Pada bacaan pertama, kita diajak untuk melihat bagaimana Hana menepati nazarnya kepada Tuhan. Apabila kita mencermati latar belakang peristiwa ini, maka kita akan tersadar bahwa bagi Hana, dan memang lazimnya bagi semua perempuan Israel, kemandulan merupakan sebuah aib. Hal ini karena seorang perempuan Yahudi yang mandul itu dikucilkan, baik secara agamawi maupun dalam masyarakat. Hana pasti sadar bahwa kemandulan itu akan mengakibatkan suaminya akan mendapat aib juga. Maka ia lantas memohon pada Yahwe agar Ia berkenan memberinya keturunan. Pada bacaan Injil, kita menjumpai Maria yang sedang berziarah ke Yerusalem dalam rangka perayaan Paskah, mengalami peristiwa yang mengguncangkan. Ia kehilangan Kanak-kanak Yesus di tengah keramaian. Kita tidak tahu persis bagaimana situasi keluarga rumah tangga Keluarga Kudus ketika itu, tetapi barangkali kita boleh mengandaikan bahwa apabila peristiwa ini sampai dicatat oleh Sto.Lukas, sudahlah tentu bahwa peristiwa ini mengesan dalam bagi nara sumber Injil.

Apa yang bisa kita gali dari kedua peristiwa ini? Pertama, Samuel dan Yesus merupakan kerinduan terbesar bagi Hana dan Maria. Samuel merupakan wujud nyata kerinduan Hana untuk memiliki seorang anak. Di sisi lain, Yesus pastilah diharapkan Maria agar suatu saat kelak menyelamatkan bangsa Israel dari penjajahan romawi. Kita semua pastilah memiliki kerinduan terbesar dalam hidup kita. Boleh jadi banyak orang di sekitar kita menertawakan apa yang menjadi kerinduan kita. Bila demikian halnya, kita boleh bercermin pada Hana dan Maria, yang kiranya memiliki kesamaan iman bahwa “tidak ada yang mustahil bagi Allah”. Tapi motivasi apakah sebenarnya yang perlu kita miliki dalam kerinduan kita?

Hal kedua yang bisa kita gali dari bacaan hari ini adalah bahwa Hana dan Maria secara mengesankan meninggalkan teladan agar kita menyerahkan kerinduan kita kepada Tuhan. Selama menantikan kelahiran anaknya, dan terus berlanjut ketika Samuel bertumbuh, Hana hidup dalam satu motivasi ini : ia ingin menyerahkan anaknya kepada Tuhan, dan akhirnya ia memang melakukannya. Peristiwa injil bahkan mengajak kita lebih dalam untuk mendasari tindakan penyerahan kita dengan suatu penyerahan rohani.

“Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada dalam rumah Bapa-Ku?” kata-kata Kanak-kanak Yesus ini hendaknya jangan dipahami sebatas kata-kata luar biasa dari seorang anak kecil. Sto.Lukas, penulis kitab Injil, adalah seorang tabib. Ia terbiasa untuk menulis dengan rinci bukan tanpa maksud. Maka kita boleh bertanya-tanya mengapa Sto.Lukas memutuskan untuk mencatat peristiwa ini. Dalam tradisi bangsa Yahudi, bahkan hingga saat ini, ada upacara inisiasi yang amat penting dalam kehidupan seorang manusia setelah sunat. Upacara itu adalah Bar Mitzvah yang dijalani oleh seorang anak laki-laki yang berusia 13 tahun. Maka ada yang berbeda pada perayaan Paskah yang diikuti Keluarga Kudus ketika itu. Perayaan Paskah kali itu adalah kali terakhir bagi Maria dan Yusuf dapat menganggap Yesus (ketika itu berusia 12 tahun) sebagai seorang anak-anak yang harus tunduk patuh pada jalan pikiran orang tuanya. Maria sendiri, sebagai ibu yang baik, pasti sudah merencanakan segala yang terbaik bagi anaknya. Ia mungkin berpikir sama seperti lazimnya orang tua, “Saya tahu apa yang terbaik bagi anak saya.” Namun toh, kata-kata Kanak-kanak Yesus pastilah tetap mengguncangkannya. “Rumah Bapa” dalam bahasa Kanak-kanak Yesus pastilah sudah cukup mengguncangkan hati Maria.

Dikatakan dalam Injil bahwa Maria menyimpan peristiwa itu (yaitu apa yang dikatakan Kanak-kanak Yesus) dalam hatinya. Benar bahwa Maria ketika itu sudah menyerahkan Yesus secara fisik pada Yahwe melalui sunat, tapi Kanak-kanak Yesus mengingatkannya kembali bahwa yang paling mendasar adalah sikap penyerahan rohani. Yesus mengarahkan Maria agar ia tidak sibuk dengan segala rancangannya sendiri, melainkan mengarahkan segala kerinduannya (yaitu penyelamatan oleh Yesus) kepada Bapa. Ia mengarahkan Maria untuk bersikap tidak melekat.

Bagaimana dengan kita? Adalah wajar bila seorang manusia memiliki cita-cita, memiliki kerinduan yang besar dan mendalam, namun apakah kita sudah menyerahkannya kepada Tuhan?

~IOJC (tu scis quia amo te)~

Saudara...,
"Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran,
daripada penghasilan banyak tanpa keadilan.

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya,
tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya"
(Ams 16:8-9)

Deus Meus et Omnia
Saudara...,
"Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran,
daripada penghasilan banyak tanpa keadilan.

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya,
tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya"
(Ams 16:8-9)

Deus Meus et Omnia