Thursday, January 10, 2013
Jika doa dipandang sebagai kewajiban, yang ada adalah keterpaksaan, padahal Tuhan tidak pernah memaksa.
Jika doa dipandang sebagai kebutuhan, maka kita hanya akan berdoa ketika kita butuh.
Jika doa merupakan suatu kerinduan, maka kerinduan itulah yang senantiasa akan menuntun kita untuk selalu berdoa.
--anonim, tercetak pada sebuah kalender--
~IOJC (tu scis quia amo te)~
Jika doa dipandang sebagai kewajiban, yang ada adalah keterpaksaan, padahal Tuhan tidak pernah memaksa.
Jika doa dipandang sebagai kebutuhan, maka kita hanya akan berdoa ketika kita butuh.
Jika doa merupakan suatu kerinduan, maka kerinduan itulah yang senantiasa akan menuntun kita untuk selalu berdoa.
--anonim, tercetak pada sebuah kalender--
~IOJC (tu scis quia amo te)~
Jika doa dipandang sebagai kebutuhan, maka kita hanya akan berdoa ketika kita butuh.
Jika doa merupakan suatu kerinduan, maka kerinduan itulah yang senantiasa akan menuntun kita untuk selalu berdoa.
--anonim, tercetak pada sebuah kalender--
~IOJC (tu scis quia amo te)~
Wednesday, January 9, 2013
“Allah telah menciptakanku untuk melakukan suatu pelayanan yang pasti bagi-Nya; Ia telah mempercayakan suatu pekerjaan kepadaku yang tidak ia percayakan kepada yang lain. Aku memiliki misiku sendiri – Aku mungkin tidak pernah mengetahuinya dalam hidup ini, tapi aku akan diberitahu tentang itu selanjutnya…Aku memiliki bagian dalam karya agung; Aku adalah mata rantai dalam rantai, sebuah ikatan hubungan diantara pribadi-pribadi"
”Penderitaan tanpa cinta adalah penderitaan atau neraka. Penderitaan
dengan cinta adalah pengorbanan. Cinta tidak memiliki kekuatan untuk
membunuh penderitaan atau memusnahkannya, tapi cinta memiliki kekuatan
untuk mengurangi penderitaan”—Fulton Sheen, dari buku “Life is Worth
Living”
“Allah tidak memanggilku untuk menjadi sukses, melainkan Ia memanggilku untuk menjadi taat” – Beata Teresa dari Calcuta
“Kenyataannya, hanya ada satu Misa, satu Liturgi Ekaristi yang abadi, dan ini terjadi di surga selamanya… Kita tidak sekedar menghadiri Misa, kita bergabung dengan semua penghuni surga dan bumi dalam merayakan Liturgi yang abadi” – Vinny Flyn, dari Buku “7 Secrets of Eucharist”
“Allah tidak memanggilku untuk menjadi sukses, melainkan Ia memanggilku untuk menjadi taat” – Beata Teresa dari Calcuta
“Kenyataannya, hanya ada satu Misa, satu Liturgi Ekaristi yang abadi, dan ini terjadi di surga selamanya… Kita tidak sekedar menghadiri Misa, kita bergabung dengan semua penghuni surga dan bumi dalam merayakan Liturgi yang abadi” – Vinny Flyn, dari Buku “7 Secrets of Eucharist”
Tuesday, January 8, 2013
::Beriman PENUH::
Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.(Why 3:16)
Orang yang bimbang janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu
dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam
hidupnya. (Yak 1:7-8)
Jika Kristus yang kita ikuti dan kita
percayai, mengapa kita tidak mempercayaiNya seratus persen. Kita akan
rugi sendiri dalam hal waktu dan tenaga bila kita mempercayai Kristus
dan ajaran GerejaNya setengah-setangah. Kita bisa membandingkan orang
yang berlari memakai sandal dan yang memakai sepatu. Kita bisa menilai
orang yang berlari memakai sandal, seolah tidak serius dalam berlari
mencapai tujuan. Jika seharusnya ia bisa sampai di tujuan dalam 1 jam,
ia mungkin baru sampai dalam 4 jam dengan tenaga yang lebih banyak
terbuang atau mungkin malah tidak sanggup mencapai tujuan.
Kepercayaan kita kepada Kristus dan GerejaNya Katolik bukanlah
kepercayaan buta, karena kita memiliki ribuan saksi-saksi iman, dimulai
dari para rasul, martir dan santo-santa. Mereka adalah orang-orang yang
paling mirip Kristus dalam menjalani kehidupan di dunia ini dan mereka
mengalami kebahagiaan adikodrati sejak di dunia ini dan berakhir di
surga. Tidak semuanya orang-orang sukses dalam keduniawian, tetapi
mereka sukses dalam kebahagiaan surgawi sejak di dunia ini.
Kita mungkin mengalami beberapa kesulitan dalam memahami ajaran iman,
tetapi kesulitan-kesulitan itu tidak sama dengan kebimbangan. Semoga
Tuhan menambahkan iman kita.
salam.
::Beriman PENUH::
Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.(Why 3:16)
Orang yang bimbang janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. (Yak 1:7-8)
Jika Kristus yang kita ikuti dan kita percayai, mengapa kita tidak mempercayaiNya seratus persen. Kita akan rugi sendiri dalam hal waktu dan tenaga bila kita mempercayai Kristus dan ajaran GerejaNya setengah-setangah. Kita bisa membandingkan orang yang berlari memakai sandal dan yang memakai sepatu. Kita bisa menilai orang yang berlari memakai sandal, seolah tidak serius dalam berlari mencapai tujuan. Jika seharusnya ia bisa sampai di tujuan dalam 1 jam, ia mungkin baru sampai dalam 4 jam dengan tenaga yang lebih banyak terbuang atau mungkin malah tidak sanggup mencapai tujuan.
Kepercayaan kita kepada Kristus dan GerejaNya Katolik bukanlah kepercayaan buta, karena kita memiliki ribuan saksi-saksi iman, dimulai dari para rasul, martir dan santo-santa. Mereka adalah orang-orang yang paling mirip Kristus dalam menjalani kehidupan di dunia ini dan mereka mengalami kebahagiaan adikodrati sejak di dunia ini dan berakhir di surga. Tidak semuanya orang-orang sukses dalam keduniawian, tetapi mereka sukses dalam kebahagiaan surgawi sejak di dunia ini.
Kita mungkin mengalami beberapa kesulitan dalam memahami ajaran iman, tetapi kesulitan-kesulitan itu tidak sama dengan kebimbangan. Semoga Tuhan menambahkan iman kita.
salam.
Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.(Why 3:16)
Orang yang bimbang janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. (Yak 1:7-8)
Jika Kristus yang kita ikuti dan kita percayai, mengapa kita tidak mempercayaiNya seratus persen. Kita akan rugi sendiri dalam hal waktu dan tenaga bila kita mempercayai Kristus dan ajaran GerejaNya setengah-setangah. Kita bisa membandingkan orang yang berlari memakai sandal dan yang memakai sepatu. Kita bisa menilai orang yang berlari memakai sandal, seolah tidak serius dalam berlari mencapai tujuan. Jika seharusnya ia bisa sampai di tujuan dalam 1 jam, ia mungkin baru sampai dalam 4 jam dengan tenaga yang lebih banyak terbuang atau mungkin malah tidak sanggup mencapai tujuan.
Kepercayaan kita kepada Kristus dan GerejaNya Katolik bukanlah kepercayaan buta, karena kita memiliki ribuan saksi-saksi iman, dimulai dari para rasul, martir dan santo-santa. Mereka adalah orang-orang yang paling mirip Kristus dalam menjalani kehidupan di dunia ini dan mereka mengalami kebahagiaan adikodrati sejak di dunia ini dan berakhir di surga. Tidak semuanya orang-orang sukses dalam keduniawian, tetapi mereka sukses dalam kebahagiaan surgawi sejak di dunia ini.
Kita mungkin mengalami beberapa kesulitan dalam memahami ajaran iman, tetapi kesulitan-kesulitan itu tidak sama dengan kebimbangan. Semoga Tuhan menambahkan iman kita.
salam.
KARENA BELAS KASIHANNYA MAKA IA MEMBERI KITA MAKAN
Renungan pagi hari Selasa, 8 Januari 2013
Cerita mukijizat yang terdapat dalam Injil hari ini biasanya disoroti
pada aspek 'pergandaan roti dan ikan terhadap lima ribu orang".
Kebanyakan dari kita akan melihat bahwa dasar dari terjadinya mukjizat
itu adalah karena rasa lapar yang dialami oleh orang banyak. Kiranya,
memandang kisah itu hanya pada aspek pemberian makan sama dengan
mengurangi makna dari kisah. Jika kita membaca lebih cermat kisah "Yesus
memberi makan lima ribu orang" (Mk 6:34-44), maka kita akan menemukan
penyebab dasar dari mukjizat itu.
Dasar dari terjadinya mukjizat itu bukanlah karena rasa lapar yang
dialami oleh kerumunan orang banyak tetapi karena BELAS KASIHAN dari
Yesus. Sebagaimana tertulis dalam teks: "Yesus melihat sejumlah orang
banyak, maka tergeraklah hatinya oleh BELAS KASIHAN kepada mereka,
karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah
Dia mengajarkan banyak hal kepada mereka" (ay 34). Di sini dengan nyata
Yesus menaruh belas kasihan BUKAN karena kelaparan yang terjadi di
kalangan orang banyak, tetapi karena mereka seperti domba tanpa gembala;
tercerai-berai, tanpa pemimpin, tanpa ada yang melindungi dan menjaga,
kehilangan tokoh pemersatu, kehilangan semangat karena tidak ada
pemimpin spiritual yang tepat. Dan paling fatal adalah tidak ada yang
dapat mengenyangkan 'kelaparan' rohani mereka. Inilah sebenarnya inti
dan dasar terjadinya pemberian makan.
Karena itulah, Yesus
tidak pertama-tama memberi mereka santapan jasmani. Ia lebih dulu
mengajarkan kepada mereka banyak hal, Kerajaan Allah. Orang yang hidup
pada masa Yesus ini sungguh diberkati. Mereka telah bertemu seorang yang
mengenal kelaparan spiritual mereka dan mengenyangkan kelaparan itu.
Mereka mendapat siraman rohani sekaligus juga makanan jasmani. Yesus
menyadari kedua-duanya perlu untuk hidup manusia. Tetapi yang pertama
Dia berikan adalah: SIRAMAN ROHANI.
Sangat masuk akal jika pada
pagi hari perasaan kita sejuk dan damai jika kita bisa mendengar
SIRAMAN ROHANI dari radio, televisi, internet, atau kotbah misa. Hati
kita merasa damai jika kita bisa membaca renungan dan doa pagi atau ikut
serta perayaan ekaristi pagi. Kita belum makan apa-apa di pagi hari
tetapi rasanya sudah kenyang karena Sabda Tuhan sungguh menguatkan kita.
Hidup kita terasa diberkati untuk sepanjang hari. Ada kekuatan baru
untuk memulai aktivitas; memasak sarapan, menyapu rumah, mempersiapkan
anak untuk sekolah, membereskan perlengkapan untuk ke kantor dan lain
sebagainya. Itulah yang mau disampaikan Yesus bagi kita hari ini. Semoga
kita tidak membiarkan hati kita kelaparan akan Sabda Allah, kelaparan
secara rohani. Carilah dahulu kerajaan Allah maka yang lainnya akan
ditambahkannya padamu. Amen. Selamat pagi
Deus Meus et Omnia
Monday, January 7, 2013
INSPIRASI PAGI
KISAH SERBUK PAHIT
Ada seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yg sedang dirundung
problem dan masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung
menceritakan semua masalahnya.
Pak
tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama, lalu ia mengambil segenggam
serbuk pahit & meminta anak muda itu u/ mengambil segelas air.
Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas & di aduk perlahan,
“Coba minum ini & katakan bagaimana rasanya?” ujar Pak tua
“Pahit sekali” jawab Pemuda itu
Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak pemuda itu utk berjalan ke tepi telaga di belakang rumahnya.
Mereka berjalan berdampingan & akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang itu.
Sesampai disana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu & dengan sepotong kayu ia mengaduknya,
“Coba ambil air telaga ini & minumlah”
Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua bertanya lagi,
“Bagaimana rasanya?”
“Segar” sahut si Pemuda
“Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu?” tanya Pak tua
“Tidak” sahut Pemuda
Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “Anak muda dengarkan
baik-baik, pahitnya kehidupan sama seperti segenggam serbuk pahit ini,
tak lebih tak kurang” Jumlah & rasa pahitnya pun sama & memang
akan tetap sama. Tapi kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari
WADAH yang kita miliki.
Kepahitan itu akan di dasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya.
Jadi saat Anda merasakan kepahitan & kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yang dapat Anda lakukan :
“Lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu,
Luaskanlah hatimu utk menampung setiap kepahitan itu”
Saudaraku.. Hatimu adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu.
Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.
“Jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yg mampu
menampung setiap kepahitan itu & merubahnya menjadi kesegaran &
kedamaian…”
SEMOGA BISA MENJADI RENUNGAN PAGI INI…
Selamat Pagi Berkah Dalem
Subscribe to:
Posts (Atom)