Monday, October 22, 2012

Buang Amarahmu dan Berikan Maaf Yang Tulus Iklas

“Terus memendam amarah sama seperti menggenggam bara panas untuk dilontarkan kepada seseorang, Andalah yang akan terbakar.” -Sidharta Gautama

Dalam hidup memang wajar kalau ada peristiwa-peristiwa yang membuat kita marah dan kecewa. Tapi cepat kendalikan emosi Anda kembali. Jangan biarkan rasa amarah, dendam, iri, kesal atau kecewa kepada pasangan, teman, rekan kerja, atau atasan di kantor bercokol lama di hati kita.


Kekesalan, amarah dan kekecewaan hanya akan mengaktifkan hukum tarik menarik, membuat Anda menerima apa yang Anda berikan.

Bila kesal pada pasangan atau ada kawan yang mengingkari janji, lalu Anda menyalahkan mereka atas kekacauan semua itu, maka Anda akan mendapatkan kembali keadaan yang dipersalahkan itu.

Kembalinya keadaan itu tidak harus selalu dari orang yang Anda salahkan, tetapi sejatinya Anda akan mendapatkan kembali keadaan yang Anda salahkan itu.

Relakan dan maafkanlah. Hati akan terasa lebih lega dan ringan dalam menjalani hidup, lebih fokus terhadap tujuan hidup tanpa terbebani penyakit-penyakit hati yang hanya akan menghabiskan energi positif.

Saudara terkasih, jika saya mengikhlaskan diri saya, saya menjadi yang saya inginkan. Jika saya mengikhlaskan yang saya punya, saya akan menerima apa yang saya butuhkan.

Semoga Tuhan mengaruniai sabar yang tak berbatas dan tulus iklas yang tak bertepi untuk kita semua, sehingga apapun rintangan dan cobaan yang dilalui akan terasa lebih ringan lewat perantaraNya.

Thursday, October 18, 2012

"HATI TULUS MAMA-PAPAMU"

Hal terindah dari para orang tua adalah mereka lebih mudah menyembunyikan kegelisahan, ketakutan dan kesedihan mereka daripada kesenangan dan kebahagiaan jiwa mereka di hadapan anak-anak mereka. Kebahagiaan jiwa sulit disembunyikan, tapi kesedihannya dapat disembunyikan hanya untuk membuatmu tidak cemas dan sedih."

***Duc in Altum***
Renungan Pagi: "SELALU ADA DIA DISAMPINGMU"
Kamis, 18 Oktober 2012
Injil: Lukas 10: 1-9

Tantangan, cobaan, bahkan ancaman pembunuhan pun akan selalu terdengar dari kisah para pewarta Kabar Gembira dalam menjalankan misinya. Nama Yesus selalu dipuji dan dipuja oleh para pencinta-Nya, namun di lain pihak difitnah, ditolak bahkan yang mewartakan-Nya akan selalu mendapatkan cobaan. Dan, inilah yang diingatkan oleh Yesus ketika mengutus para murid di zaman-Nya, yang tentunya terus menerus kita alami dari zaman ke zaman; "Pergilah, Aku mengutus kamu bagaikan domba ke tengah serigala."

Pagi ini, kudatangi engkau para sahabatku dan menyakinkanmu akan satu kebenaran ini; Dalam situasi apa pun, ingatlah bahwa engkau tidak sendirian. Tuhan pun selalu memberi sahabat dalam perjalanan hidupmu. Inilah yang Ia akan selalu buat padamu: "Lalu Ia mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya." Kalau pun seorang teman bahkan teman-temanmu meninggalkanmu dalam tugas/karya bahkan hidupmu, tapi percayalah bahwa Dia yang mengutusmu takan pernah meninggalkanmu sendirian. Ia akan selalu berjalan bersamamu seperti Ia menemani dua murid-Nya yang ke Emaus.

Karena itu, percayalah akan yang satu ini ketika engkau bekerja untuk-Nya: "Kalau pun matamu tidak melihat-Nya, tapi hatimu akan selalu merasakan kehadiran-Nya, karena sesungguhnya Ia akan selalu ada di sana untukmu. "Duc in Altum : Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam....ya, selalu bertolaklah ke kedalaman hatimu, karena sesungguhnya Ia akan selalu ada di sana untuk menguatkanmu dengan berkata: "Anak-Ku, jangan takut!


Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabatnya,

***Duc in Altum***

Wednesday, October 17, 2012



Lihatlah betapa lucunya bayi ini. Dia sedang dibaptis dan terlihat ekspresinya menunjukkan "kaget akan rahmat" yang dia terima dalam Pembaptisan.

Bersama foto ini, admin kembali mempublikasikan artikel yang menyerukan agar para orang tua Katolik segera memberi bayi-bayi mereka untuk dibaptis.

Berikut ini isi artikel tersebut:

Ada sebuah tren di masa sekarang di mana orang tua Katolik lebih memilih membaptis anaknya pada usia yang dianggap mereka pantas atau cukup dewasa ketimbang membaptis anaknya pada saat bayi. Seorang anak murid saya (kelas 2 SMP) ternyata hingga sekarang masih belum dibaptis. Ketika saya tanya alasannya kenapa demikian, ia berkata bahwa orangtuanya menunggu agar ia dewasa dahulu, mencapai usia 17 tahun barulah ia dibaptis.

Hal ini mungkin terjadi karena kurangnya kesadaran orang tua akan perlunya pembaptisan bagi anak-anak mereka. Bisa jadi pula karena terpengaruh oleh pandangan-pandangan saudara terpisah lainnya yang menolak pembaptisan bayi. Apa yang umumnya menjadi alasan para orang tua Katolik menunda pembaptisan bagi anak-anak mereka adalah mereka ingin agar anak-anak mereka terlebih dahulu memahami dan mengetahui ajaran-ajaran Kristus sehingga anak-anak mereka dengan kesadaran mereka sendiri mengakui Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat serta memilih bersatu dalam Gereja Katolik. Di sini kita melihat bahwa orang tua yang demikian secara tidak langsung menganggap karunia iman haruslah diterima ketika seorang anak mampu menggunakan nalar mereka.

Hal ini sebenarnya memprihatinkan. Mengapa? Karena dengan demikian para orang tua memperpanjang masa resiko bagi anak-anak mereka untuk kehilangan meterai keselamatan yang harusnya diterima mereka segera sesudah mereka lahir. Untuk itu, saya dalam tulisan ini hendak menyampaikan pesan kepada para orang tua Katolik supaya segera membaptis anak-anak mereka, supaya segera memberikan meterai keselamatan bagi mereka,

Mari kita mulai dulu dengan apa itu Pembaptisan. Saya kutip dari Katekismus Gereja Katolik:

KGK 1213 Pembaptisan suci adalah dasar seluruh kehidupan Kristen, pintu masuk menuju kehidupan dalam roh [vitae spiritualis ianua] dan menuju Sakramen-sakramen yang lain. Oleh Pembaptisan kita dibebaskan dari dosa dan dilahirkan kembali sebagai putera-puteri Allah; kita menjadi anggota-anggota Kristus, dimasukkan ke dalam Gereja dan ikut serta dalam perutusannya: "Pembaptisan adalah Sakramen kelahiran kembali oleh air dalam Sabda" (Catech. R. 2,2,5).

KGK 1257 Tuhan sendiri mengatakan bahwa Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan Bdk. Yoh 3:5.. Karena itu, Ia memberi perintah kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa Bdk. Mat 28:19-20; DS 1618; LG 14; AG 5.. Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang, kepada siapa Injil telah diwartakan dan yang mempunyai kemungkinan untuk memohon Sakramen ini Bdk. Mrk 16:16.. Gereja tidak mengenal sarana lain dari Pembaptisan, untuk menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi. Karena itu, dengan rela hati ia mematuhi perintah yang diterimanya dari Tuhan, supaya membantu semua orang yang dapat dibaptis, untuk memperoleh "kelahiran kembali dari air dan Roh". Tuhan telah mengikatkan keselamatan pada Sakramen Pembaptisan, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada Sakramen-sakramen-Nya.


Melihat dua pernyataan Katekismus Gereja Katolik di atas, kita bisa mengetahui bahwa Sakramen Pembaptisan itu begitu penting dalam tata keselamatan kita, pembaptisan itu perlu bagi kita untuk keselamatan kita. Tidak ada cara lain untuk menjamin keselamatan kita selain Pembaptisan. Rahmat apa saja yang kita terima melalui pembaptisan sehingga dikatakan pembaptisan itu penting bagi keselamatan kita? Saya akan mengacu lagi kepada Katekismus Gereja Katolik.

Pembaptisan yang kita terima membuahkan:
1. Pengampunan seluruh dosa kita termasuk dosa asal yang kita terima dari Adam dan Hawa (bdk. Katekismus Gereja Katolik 1263 dan 1279)
2. Pemberikan meterai tak terhapuskan yang menggabungkan kita dengan Kristus (bdk. KGK 1272-1274 dan 1279)
3. Persatuan dengan Gereja-Nya (bdk. KGK 1267 dan 1279)
4. Pengangkatan kita sebagai anak-anak Allah (bdk. KGK 1265 dan 1279)
5. Kesatuan Sakramental dari Kesatuan Kristen (bdk. KGK 1271)

Inilah buah-buah pembaptisan itu. Inilah yang diterima oleh anak-anak ketika mereka dibaptis. Setiap manusia (kecuali Kristus dan Maria), dilahirkan dalam kodrat manusia yang jatuh dan dinodai dosa asal. Sebagai akibat dosa asal, setiap manusia mengalami “mati kekudusan” yang menghalangi mereka untuk menjadi anak-anak Allah. Oleh karena itu mereka membutuhkan kelahiran kembali di dalam pembaptisan agar mereka dimasukkan ke dalam kerajaan Allah, dipersatukan dengan Kristus dan Gereja-Nya dan tentunya diangkat menjadi anak-anak Allah. Pembaptisan memerdekakan anak-anak dari penjara dosa asal. Oleh karena itu, “Gereja dan orang-tua akan menghalangi anak-anaknya memperoleh rahmat tak ternilai menjadi anak Allah, kalau mereka tidak dengan segera membaptisnya sesudah kelahiran.” (KGK 1250)

Kitab Hukum Kanonik juga menyatakan:

KHK No. 867 Point 1 dan 2. Para orangtua wajib mengusahakan agar bayi-bayi dibaptis dalam minggu-minggu pertama; segera sesudah kelahiran anaknya, bahkan juga sebelum itu, hendaknya menghadap pastor paroki untuk memintakan sakramen bagi anaknya serta dipersiapkan dengan semestinya untuk itu. Bila bayi berada dalam bahaya maut, hendaknya dibaptis tanpa menunda-nunda.


Kristus sendiri pernah berkata, “sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Yoh 3:5). Di sini Kristus menekankan perlunya kelahiran kembali dalam pembaptisan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sementara itu, di ayat lain Kristus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.” (Luk 18:16). Bila anak-anak adalah empunya Kerajaan Allah dan jalan pertama agar masuk ke dalamnya adalah melalui pembaptisan, maka dari itu pembaptisan bayi adalah begitu penting untuk dilaksanakan.

St. Hipolitus dari Roma dalam tulisan Tradisi Para Rasul yang ditulis pada tahun 215 M mengatakan, “Anak-anak haruslah dibaptis pertama kali. Semua anak yang dapat menanggapi [pembaptisan] untuk dirinya sendiri, hendaklah mereka menanggapinya. Bila ada anak-anak yang tidak dapat menanggapi [pembaptisan] untuk dirinya sendiri, hendaklah orang tua mereka menanggapinya untuk mereka, atau seseorang lain dari keluarga mereka.”

Sedangkan Bapa Gereja St. Gregorius dari Nazianzen mengatakan: “Apakah anda memiliki anak bayi? Jangan biarkan dosa memiliki kesempatan. Hendaklah anak bayi dikuduskan sejak masa kecilnya. Dalam usianya yang termuda, biarkanlah dia dikuduskan oleh Roh Kudus.” (Oration on Holy Baptism, 40:7 [388 M]

Dengan demikian, baik Tradisi Suci, Kitab Suci, maupun Magisterium Gereja menekankan pentingnya pembaptisan bayi bagi keselamatan bayi-bayi itu sendiri.

Tentang pembaptisan bayi ini, kita juga bisa melihat bahwa iman adalah karunia Allah bagi semua manusia dari segala usia termasuk usia 1 jam, 1 hari, atau 1 tahun. Bagi bayi-bayi, dalam pembaptisannya, mereka akan menerima iman akan Allah. Tentu pembaptisan walau penting dan perlu untuk keselamatan, tetapi tidaklah cukup. Anak-anak itu harus bertambah, tumbuh besar dan hidup dalam iman. Pada usianya yang masih kecil, iman itu haruslah sudah mereka terima melalui pembaptisan. Tetapi iman itu yang mereka terima itu bagaikan sebuah hadiah istimewa Allah yang terbungkus oleh kertas kado yang harus dibuka, diungkapkan, dijelaskan dan diajarkan oleh orang tua mereka setiap hari.

Oleh karena itu, bersegeralah membaptis anak-anak anda, hai orang tua yang berbahagia.

Pax et bonum

Tuesday, October 16, 2012

Seorang anggota page Gereja Katolik bertanya:
--"Admin saya mau tau tentang sakramen krisma itu apa ? Karna saya berkeinginan ikut sakramen itu thn dpn. Terimakasih :) "--

Berikut ini jawaban dari Kompendium Katekismus Gereja Katolik meng
enai Sakramen Krisma no 265-270

265. Apa peran Sakramen Penguatan dalam rencana keselamatan ilahi?
Dalam Perjanjian Lama, para nabi mewartakan bahwa Roh Allah akan turun ke atas Mesias yang dinantikan dan ke seluruh umat mesianis. Seluruh hidup Yesus dijalani dalam persatuan total dengan Roh Kudus. Para Rasul menerima Roh Kudus pada hari Pentekosta dan mewartakan karya agung Allah (Kis 2:11). Mereka memberikan anugerah Roh yang sama kepada orang yang baru dibaptis dengan penumpangan tangan. Selama berabad-abad, Gereja terus menjalani hidup dalam Roh dan menurunkan-Nya kepada anak-anaknya.

266. Mengapa Sakramen ini disebut dengan Krisma atau Penguatan?
Disebut dengan Krisma (dalam Gereja-Gereja Timur, artinya mengurapi dengan Myron suci – Myron: minyak dari biji Sesawi hitam, atau disebut juga dengan krisma) karena ritus pokok Sakramen ini ialah pengurapan dengan minyak suci (krisma). Disebut dengan Penguatan karena Sakramen ini bertujuan untuk menguatkan dan memperkokoh rahmat Sakramen Pembaptisan.

267. Apa ritus pokok Sakramen Penguatan?
Ritus pokok Sakramen Penguatan ialah pengurapan dengan minyak Krisma Suci (minyak yang dicampur dengan balsam dan diberkati Uskup), yang dilaksanakan dengan penumpangan tangan petugas Gereja (Uskup atau wakilnya) yang mengucapkan kata-kata sakramental dari ritus tersebut. Di Gereja Barat, pengurapan ini diberikan di dahi orang yang sudah dibaptis dengan kata-kata: ”Semoga engkau dimeteraikan dengan karunia Roh Kudus”. Di Gereja-Gereja Timur dari ritus Byzantin, pengurapan ini diberikan juga pada bagian badan yang lain dengan kata-kata: ”Meterai karunia Roh Kudus”.

268. Apa buah Sakramen Penguatan?
Buah Sakramen Penguatan ini ialah pencurahan Roh Kudus secara khusus seperti pada hari Pentekosta. Pencurahan ini memberikan meterai yang tak terhapuskan dan menumbuhkembangkan rahmat Sakramen Pembaptisan. Sakramen ini membuat si penerima masuk lebih dalam menjadi putra-putri ilahi, mempererat hubungannya dengan Kristus dan Gereja, dan memperkuat anugerah Roh Kudus di dalam jiwanya. Sakramen ini memberikan kekuatan khusus dalam memberikan kesaksian iman Kristen.

269. Siapa yang dapat menerima Sakramen ini?
Hanya mereka yang sudah dibaptis dapat menerima Sakramen Penguatan, dan Sakramen ini hanya dapat diterima satu kali saja. Agar penerimaan Sakramen Penguatan berdaya guna, calon harus berada dalam keadaan berahmat.

270. Siapa pelayan Sakramen Penguatan?
Petugas aslinya adalah Uskup. Dengan demikian, bisa ditampakkan hubungan antara orang yang menerima dan Gereja dalam dimensi apostoliknya. Jika yang melaksanakan Sakramen ini adalah seorang imam, yang biasanya terjadi di Gereja Timur dan dalam kasus khusus juga terjadi di Barat, hubungan dengan Uskup dan Gereja diungkapkan oleh Imam yang menjadi pembantu (kolaborator) Uskup dan dengan Krisma Suci yang diberkati oleh Uskup sendiri.
Bacaan Katekismus Gereja Katolik dalam Setahun

Bagian I - Pengakuan Iman
Seksi I Aku Percaya – Kami Percaya
Bab II Allah Menyongsong Manusia
Bab III Jawaban Manusia kepada Allah
Artikel 4 Aku Percaya

Artikel 5 Kami Percaya

166 Iman adalah satu perbuatan pribadi: jawaban bebas manusia atas undangan Allah yang mewahyukan Diri. Tetapi iman bukanlah satu perbuatan yang terisolir. Tidak ada seorang pun dapat percaya untuk dirinya sendiri, sebagaimana juga tidak ada seorang yang dapat hidup untuk dirinya sendiri. Tidak ada seorang yang memberikan iman kepada diri sendiri, sebagaimana juga tidak ada seorang yang memberi kehidupan kepada diri sendiri. Yang percaya menerima kepercayaan dari orang lain; ia harus melanjutkannya kepada orang lain. Cinta kita kepada Yesus dan kepada sesama mendorong kita supaya berbicara kepada orang lain mengenai iman kita. Dengan demikian, setiap orang yang percaya adalah anggota dalam jalinan rantai besar orang-orang beriman. Saya tidak dapat percaya, kalau saya tidak didukung oleh kepercayaan orang lain dan oleh kepercayaan saya, saya mendukung kepercayaan orang lain.

167 "Akupercaya" (pengakuan iman apostolik): itulah iman Gereja, sebagaimana setiap orang beriman mengakui secara pribadi, terutama pada waktu Pembaptisan. "Kami percaya" (pengakuan iman dari Nisea-Konstantinopel Yn.): itulah iman Gereja, sebagaimana para Uskup yang berkumpul dalam konsili itu mengakui atau lebih umum, sebagaimana umat beriman mengakui dalam liturgi. "Aku percaya": demikianlah juga Gereja, ibu kita berbicara, yang menjawab Allah melalui imannya dan yang mengajar kita berkata: "aku percaya", "kami percaya".

I. "Tuhan, Perhatikanlah Iman Gereja-Mu"

168 Pertama-tama Gerejalah, yang percaya dan dengan demikian menopang, memupuk dan mendukung iman saya. Pada tempat pertama Gerejalah yang mengakui Tuhan di mana-mana ("Kepadamu Gereja kudus beriman, tersebar di seluruh dunia", demikian kita menyanyi dalam madah Te Deum), dan bersama dia dan dalam dia, kita juga mengakui: "aku percaya", "kami percaya". Melalui Gereja kita menerima dalam Pembaptisan iman dan kehidupan baru dalam Kristus. Dalam ritus Romawi, pemberi Pembaptisan bertanya kepada yang menerima Pembaptisan: "Apa yang kau minta dari Gereja Allah?" Jawabannya: "Iman" - "Iman memberi apa kepadamu?" - "Kehidupan kekal" (RR. OBA).

169 Keselamatan datang hanya dari Allah, tetapi karena kita menerima kehidupan iman melalui Gereja, maka ia adalah ibunda kita: "Kita mengimani Gereja sebagai ibu kelahiran kembali kita, dan bukan kita percaya akan Gereja, seakan-akan dialah pangkal keselamatan kita" (Faustus d. Riez, Spir. 1,2). Sebagai ibunda kita, ia juga adalah pendidik kita dalam iman.

II. Bahasa Iman

170 Kita tidak percaya kepada rumus-rumus, tetapi kepada kenyataan yang diungkapkannya dan yang dapat kita "raba" oleh karena iman. "Perbuatan orang beriman mempunyai tujuan bukan pada pengungkapan, melainkan pada kenyataan [yang diungkapkan] (Tomas Aqu., s.th. 2-2,1,2 ad 2). Tetapi kita mendekati kenyataan-kenyataan ini dengan bantuan rumus-rumus iman. Formula ini memungkinkan untuk menyatakan dan merumuskan iman, untuk merayakan bersama, untuk menjadikannya milik kita dan untuk semakin hidup darinya

171 Sebagai "tiang dan dasar kebenaran" (1 Tim 3:15), Gereja menyimpan dengan setia "iman yang sudah satu kali diberikan Allah untuk selama-lamanya kepada umatnya" (Yud 3). Ia menyimpan kata-kata Kristus dalam ingatannya; ia meneruskan pengakuan iman para Rasul dari generasi ke generasi. Sebagai seorang ibu yang mengajarkan anak-anaknya berbicara dan dengan demikian juga mengerti dan hidup bersama, Gereja, ibu kita, mengajarkan bahasa iman kepada kita supaya menghantar kita masuk ke dalam pengertian dan kehidupan iman.