Tuesday, October 16, 2012
Saturday, October 13, 2012
Alkisah
suatu hari di sebuah sekolah, ada lomba mobil balap mainan. Pada babak
final, tersisa 4 orang anak. Salah satunya bernama Benny. Dibanding
semua finalis, mobil Benny paling tidak sempurna.
Saat pertandingan akhir akan dilangsungkan, Benny meminta waktu sebentar. Ia tampak komat-kamit berdoa. Lalu, tak lama kemudian, ia berkata, “Ya, aku siap!”
Dor! Tanda lomba dimulai. Dengan satu hentakan kuat, semua mobil itu pun meluncur cepat, dibantu dorongan tangan anak-anak itu. Ternyata, pemenangnya adalah Benny!
Benny maju dengan bangga saat pembagian piala. Dia sempat ditanyai pak guru, “Hai jagoan :) Kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, kan?”
Benny terdiam sejenak, lalu menjawab. “Bukan, Pak. Saya merasa kurang adil meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan teman-teman lain. Aku hanya mohon pada Tuhan, supaya aku tidak menangis jika aku kalah.”
Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.
Saudara terkasih Dalam Kristus, Kita sering meminta pada Yang Maha Kusasa untuk menghalau semua halangan dan menjadikan kita “nomor satu”. Mungkin kita kurang percaya bahwa kita itu sebenarnya cukup kuat (dalam berjuang dan mampu menerima setiap kekalahan tanpa menangisi terlalu lama). Ada baiknya, memanjatkan doa dalam ketegaran yang berserah, yakin bahwa hasil apa pun yang didapat, itulah yang terbaik saat ini—bagi kita dan di hadapanNya. Amin
Tuhan Memberkati
Saat pertandingan akhir akan dilangsungkan, Benny meminta waktu sebentar. Ia tampak komat-kamit berdoa. Lalu, tak lama kemudian, ia berkata, “Ya, aku siap!”
Dor! Tanda lomba dimulai. Dengan satu hentakan kuat, semua mobil itu pun meluncur cepat, dibantu dorongan tangan anak-anak itu. Ternyata, pemenangnya adalah Benny!
Benny maju dengan bangga saat pembagian piala. Dia sempat ditanyai pak guru, “Hai jagoan :) Kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, kan?”
Benny terdiam sejenak, lalu menjawab. “Bukan, Pak. Saya merasa kurang adil meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan teman-teman lain. Aku hanya mohon pada Tuhan, supaya aku tidak menangis jika aku kalah.”
Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.
Saudara terkasih Dalam Kristus, Kita sering meminta pada Yang Maha Kusasa untuk menghalau semua halangan dan menjadikan kita “nomor satu”. Mungkin kita kurang percaya bahwa kita itu sebenarnya cukup kuat (dalam berjuang dan mampu menerima setiap kekalahan tanpa menangisi terlalu lama). Ada baiknya, memanjatkan doa dalam ketegaran yang berserah, yakin bahwa hasil apa pun yang didapat, itulah yang terbaik saat ini—bagi kita dan di hadapanNya. Amin
Tuhan Memberkati
Alkisah,
ada seekor keledai terjatuh ke dalam sebuah sumur yang dalam. Binatang
itu melenguh meratapi nasibnya selama berjam-jam. Sementara itu sang
petani, pemilik keledai itu, berusaha menemukan jalan keluarnya.
Karena usia keledai itu sudah cukup tua dan sumur itu memang perlu ditutup, akhirnya sang petani memutuskan bahwa tidaklah penting untuk mendapatkan kembali keledainya. Setelah itu, sang petani mengajak semua tetangganya untuk pergi ke sumur dan membantnunya. Mereka masing-masing memegang sebuah sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.
Ketika si keledai menyadari apa yang terjadi, ia melenguh tak henti-hentinya. Lalu, tiba-tiba si keledai terdiam. Semua warga heran melihatnya. Binatang itu ternyata punya sebuah rencana.
Begitu satu sekop tanah mengenai badannya, si keledai akan menggoyangkan seluruh badannya untuk menyingkirkan tanah yang mendarat di badannya. Lalu, ia akan naik ke atas gundukan tanah yang semakin tinggi.
Akhirnya, gundukan tanah itu sudah cukup tinggi sehingga si keledai mampu ke luar dari sumur dan berderap pergi dengan gembira.
Saudara terkasih dalam Kristus, Kisah di atas bisa menjadi cerminan dari hidup kita. Tak jarang, kehidupan akan “melemparkan tanah” (baca: masalah, rintangan, cobaan, ujian, dan persoalan lainnya) pada diri kita. Trik untuk keluar dari “sumur” itu (baca: kubangan masalah) adalah menyingkirkan masalah-masalah itu dengan berani menghadapinya dan melangkah maju setahap demi setahap.
Pada akhirnya, kita bisa keluar dari “sumur terdalam” sekalipun, asalkan kita tidak pernah berhenti melangkah dan tidak pernah menyerah. Singkirkan semua persoalan itu dengan menghadapinya dan terus melangkah ke depan.
Karena usia keledai itu sudah cukup tua dan sumur itu memang perlu ditutup, akhirnya sang petani memutuskan bahwa tidaklah penting untuk mendapatkan kembali keledainya. Setelah itu, sang petani mengajak semua tetangganya untuk pergi ke sumur dan membantnunya. Mereka masing-masing memegang sebuah sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.
Ketika si keledai menyadari apa yang terjadi, ia melenguh tak henti-hentinya. Lalu, tiba-tiba si keledai terdiam. Semua warga heran melihatnya. Binatang itu ternyata punya sebuah rencana.
Begitu satu sekop tanah mengenai badannya, si keledai akan menggoyangkan seluruh badannya untuk menyingkirkan tanah yang mendarat di badannya. Lalu, ia akan naik ke atas gundukan tanah yang semakin tinggi.
Akhirnya, gundukan tanah itu sudah cukup tinggi sehingga si keledai mampu ke luar dari sumur dan berderap pergi dengan gembira.
Saudara terkasih dalam Kristus, Kisah di atas bisa menjadi cerminan dari hidup kita. Tak jarang, kehidupan akan “melemparkan tanah” (baca: masalah, rintangan, cobaan, ujian, dan persoalan lainnya) pada diri kita. Trik untuk keluar dari “sumur” itu (baca: kubangan masalah) adalah menyingkirkan masalah-masalah itu dengan berani menghadapinya dan melangkah maju setahap demi setahap.
Pada akhirnya, kita bisa keluar dari “sumur terdalam” sekalipun, asalkan kita tidak pernah berhenti melangkah dan tidak pernah menyerah. Singkirkan semua persoalan itu dengan menghadapinya dan terus melangkah ke depan.
Friday, October 12, 2012
KATEKESE KELUARGA:
APAKAH SEORANG ANAK DAPAT DIBAPTIS DALAM GEREJA KATOLIK MESKIPUN ORANGTUANYA BEDA AGAMA/GEREJA ATAU PERKAWINANNYA BERMASALAH?
Seringkali perkawinan beda agama/ gereja menimbulkan permasalahan pelik
yang tidak mudah diselesaikan, yakni mendidik anak secara Katolik.
Perkawinan beda gereja yaitu perkawinan antara seorang Katolik dengan
seorang Kristen Non Katolik. Perkawinan beda agama yaitu perkawinan
antara seorang Katolik dengan seorang yang bukan Kristen, seperti Islam,
Hindu, Buddha. Perkawinan bermasalah maksudnya perkawinan beda
agama/gereja yang tidak dilaksanakan secara norma Gereja Katolik/ tidak
dilaksanakan melalui tata cara Katolik. Contoh: Seorang Katolik menikah
dengan seorang Protestan di Gereja Protestan, Seorang Katolik menikah
dengan seorang Muslim di KUA. Perkawinan bermasalah juga terjadi jika
dua orang Katolik bercerai secara sipil kemudian menikah lagi dengan
sesama Katolik tapi hanya secara sipil dan memiliki anak.
Dalam hal ini Gereja Katolik mengajarkan kepada orangtua untuk
mengusahakan agar anaknya dibaptis dalam minggu-minggu pertama setelah
kelahirannya sesuai dengan norma kanonik (Kan 867). Mengapa demikian?
Karena anak-anak yang memiliki dosa asal membutuhkan pembaptisan sebagai
kelahiran kembali sehingga diangkat menjadi anak-anak Allah. Gereja dan
orang tua dapat dikatakan menghalangi anak-anaknya memperoleh rahmat
tak ternilai menjadi anak Allah, kalau mereka tidak dengan segera
membaptisnya sesudah kelahiran (KGK 1250).
Dengan demikian,
anak yang lahir dari perkawinan beda agama/gereja dan perkawinan yang
bermasalah DAPAT DIBAPTIS DALAM GEREJA KATOLIK, asalkan memenuhi
persyaratan berikut:
1. Mendapatkan persetujuan dari orangtuanya,
baik yang Katolik maupun bukan Katolik, termasuk perkawinan yang
bermasalah. Hal ini untuk menghormati hak dari orangtua yang bukan
Katolik terhadap pembaptisan anak. Kecuali dalam bahaya maut,
pembaptisan anak dapat dilakukan meski tidak mendapatkan persetujuan
orangtuanya (Kan 868).
2. Jaminan bahwa anak tersebut akan
mendapatkan pendidikan Katolik dengan baik karena pendidikan iman anak
merupakan tanggungjawab utama dari orangtua.
Mengapa dalam bahaya maut, bayi dapat dibaptis tanpa persetujuan orangtuanya?
Prinsip Salus Animarum (Kan 1752), dimana karya pelayanan pastoral
Gereja pertama dan utama demi keselamatan jiwa-jiwa sehingga dalam
pelayanan pastoral khususnya masalah pembaptisan anak dari perkawinan
yang bermasalah nilai keselamatan jiwa-jiwa menjadi prinsip utama.
--Deo Gratias--
KATEKESE KELUARGA:
APAKAH SEORANG ANAK DAPAT DIBAPTIS DALAM GEREJA KATOLIK MESKIPUN ORANGTUANYA BEDA AGAMA/GEREJA ATAU PERKAWINANNYA BERMASALAH?
Seringkali perkawinan beda agama/ gereja menimbulkan permasalahan pelik yang tidak mudah diselesaikan, yakni mendidik anak secara Katolik.
Perkawinan beda gereja yaitu perkawinan antara seorang Katolik dengan seorang Kristen Non Katolik. Perkawinan beda agama yaitu perkawinan antara seorang Katolik dengan seorang yang bukan Kristen, seperti Islam, Hindu, Buddha. Perkawinan bermasalah maksudnya perkawinan beda agama/gereja yang tidak dilaksanakan secara norma Gereja Katolik/ tidak dilaksanakan melalui tata cara Katolik. Contoh: Seorang Katolik menikah dengan seorang Protestan di Gereja Protestan, Seorang Katolik menikah dengan seorang Muslim di KUA. Perkawinan bermasalah juga terjadi jika dua orang Katolik bercerai secara sipil kemudian menikah lagi dengan sesama Katolik tapi hanya secara sipil dan memiliki anak.
Dalam hal ini Gereja Katolik mengajarkan kepada orangtua untuk mengusahakan agar anaknya dibaptis dalam minggu-minggu pertama setelah kelahirannya sesuai dengan norma kanonik (Kan 867). Mengapa demikian? Karena anak-anak yang memiliki dosa asal membutuhkan pembaptisan sebagai kelahiran kembali sehingga diangkat menjadi anak-anak Allah. Gereja dan orang tua dapat dikatakan menghalangi anak-anaknya memperoleh rahmat tak ternilai menjadi anak Allah, kalau mereka tidak dengan segera membaptisnya sesudah kelahiran (KGK 1250).
Dengan demikian, anak yang lahir dari perkawinan beda agama/gereja dan perkawinan yang bermasalah DAPAT DIBAPTIS DALAM GEREJA KATOLIK, asalkan memenuhi persyaratan berikut:
1. Mendapatkan persetujuan dari orangtuanya, baik yang Katolik maupun bukan Katolik, termasuk perkawinan yang bermasalah. Hal ini untuk menghormati hak dari orangtua yang bukan Katolik terhadap pembaptisan anak. Kecuali dalam bahaya maut, pembaptisan anak dapat dilakukan meski tidak mendapatkan persetujuan orangtuanya (Kan 868).
2. Jaminan bahwa anak tersebut akan mendapatkan pendidikan Katolik dengan baik karena pendidikan iman anak merupakan tanggungjawab utama dari orangtua.
Mengapa dalam bahaya maut, bayi dapat dibaptis tanpa persetujuan orangtuanya?
Prinsip Salus Animarum (Kan 1752), dimana karya pelayanan pastoral Gereja pertama dan utama demi keselamatan jiwa-jiwa sehingga dalam pelayanan pastoral khususnya masalah pembaptisan anak dari perkawinan yang bermasalah nilai keselamatan jiwa-jiwa menjadi prinsip utama.
--Deo Gratias--
APAKAH SEORANG ANAK DAPAT DIBAPTIS DALAM GEREJA KATOLIK MESKIPUN ORANGTUANYA BEDA AGAMA/GEREJA ATAU PERKAWINANNYA BERMASALAH?
Seringkali perkawinan beda agama/ gereja menimbulkan permasalahan pelik yang tidak mudah diselesaikan, yakni mendidik anak secara Katolik.
Perkawinan beda gereja yaitu perkawinan antara seorang Katolik dengan seorang Kristen Non Katolik. Perkawinan beda agama yaitu perkawinan antara seorang Katolik dengan seorang yang bukan Kristen, seperti Islam, Hindu, Buddha. Perkawinan bermasalah maksudnya perkawinan beda agama/gereja yang tidak dilaksanakan secara norma Gereja Katolik/ tidak dilaksanakan melalui tata cara Katolik. Contoh: Seorang Katolik menikah dengan seorang Protestan di Gereja Protestan, Seorang Katolik menikah dengan seorang Muslim di KUA. Perkawinan bermasalah juga terjadi jika dua orang Katolik bercerai secara sipil kemudian menikah lagi dengan sesama Katolik tapi hanya secara sipil dan memiliki anak.
Dalam hal ini Gereja Katolik mengajarkan kepada orangtua untuk mengusahakan agar anaknya dibaptis dalam minggu-minggu pertama setelah kelahirannya sesuai dengan norma kanonik (Kan 867). Mengapa demikian? Karena anak-anak yang memiliki dosa asal membutuhkan pembaptisan sebagai kelahiran kembali sehingga diangkat menjadi anak-anak Allah. Gereja dan orang tua dapat dikatakan menghalangi anak-anaknya memperoleh rahmat tak ternilai menjadi anak Allah, kalau mereka tidak dengan segera membaptisnya sesudah kelahiran (KGK 1250).
Dengan demikian, anak yang lahir dari perkawinan beda agama/gereja dan perkawinan yang bermasalah DAPAT DIBAPTIS DALAM GEREJA KATOLIK, asalkan memenuhi persyaratan berikut:
1. Mendapatkan persetujuan dari orangtuanya, baik yang Katolik maupun bukan Katolik, termasuk perkawinan yang bermasalah. Hal ini untuk menghormati hak dari orangtua yang bukan Katolik terhadap pembaptisan anak. Kecuali dalam bahaya maut, pembaptisan anak dapat dilakukan meski tidak mendapatkan persetujuan orangtuanya (Kan 868).
2. Jaminan bahwa anak tersebut akan mendapatkan pendidikan Katolik dengan baik karena pendidikan iman anak merupakan tanggungjawab utama dari orangtua.
Mengapa dalam bahaya maut, bayi dapat dibaptis tanpa persetujuan orangtuanya?
Prinsip Salus Animarum (Kan 1752), dimana karya pelayanan pastoral Gereja pertama dan utama demi keselamatan jiwa-jiwa sehingga dalam pelayanan pastoral khususnya masalah pembaptisan anak dari perkawinan yang bermasalah nilai keselamatan jiwa-jiwa menjadi prinsip utama.
--Deo Gratias--
Thursday, October 11, 2012
Cara Memecahkan Masalah
Ada beberapa penggali tambang. Setiap hari mereka bekerja dalam
tambang. Karena tambang itu kaya mineral alam, maka sudah beberapa tahun
mereka tak pernah pindah tempat kerja. Jadi bisa dibayangkan bahwa
semakin digali tambang tersebut semakin dalam. Hari itu mereka berada di
dasar terdalam dari tambang itu.
Secara tiba-tiba semua
saluran arus listrik dalam tambang itu putus. Lampu-lampu semuanya
padam. Gelap gulita meliputi dasar tambang itu, dan dalam sekejap
terjadilah hirup pikuk di sana. Setiap orang berusaha menyelamatkan diri
sendiri. Namun mereka sungguh kehilangan arah. Setiap gerakan mereka
pasti berakhir dengan benturan dan tabrakan, entah menabrak sesama
pekerja atau menabrak dinding tambang. Situasi bertambah buruk
disebabkan oleh udara yang semakin panas karena ketiadaan AC.
Setelah capek bergulat dengan kegelapan, mereka semua duduk lesu tanpa
harapan. Satu dari para pekerja itu angkat bicara: ‘Sebaiknya kita duduk
tenang dari pada secara hiruk-pikik mencari jalan ke luar. Duduklah
secara tenang dan berusahalah untuk merasakan hembusan angin. Karena
angin hanya bisa berhembus masuk melalui pintu tambang ini.’
Mereka lalu duduk dalam hening. Saat pertama mereka tak dapat merasakan
hembusan angin. Namun perlahan-lahan mereka menjadi semakin peka akan
hembusan angin sepoi yang masuk melalui pintu tambang. Dengan mengikuti
arah datangnya angin itu, mereka akhirnya dengan selamat keluar dari
dasar tambang yang dicekam gelap gulita itu.
Bila bathin anda
sedang gundah dan kacau, anda tak akan pernah melihat jalan keluar yang
tepat. Anda butuh untuk pertama-tama menenangkan diri. Hanya dalam
keheningan anda bisa melihat pokok masyalah secara tepat, serta secara
tepat pula membuat keputusan.
Berkah Dalem
-----------------------------
Berbagi Kasih Abner
Setelah capek bergulat dengan kegelapan, mereka semua duduk lesu tanpa harapan. Satu dari para pekerja itu angkat bicara: ‘Sebaiknya kita duduk tenang dari pada secara hiruk-pikik mencari jalan ke luar. Duduklah secara tenang dan berusahalah untuk merasakan hembusan angin. Karena angin hanya bisa berhembus masuk melalui pintu tambang ini.’
Mereka lalu duduk dalam hening. Saat pertama mereka tak dapat merasakan hembusan angin. Namun perlahan-lahan mereka menjadi semakin peka akan hembusan angin sepoi yang masuk melalui pintu tambang. Dengan mengikuti arah datangnya angin itu, mereka akhirnya dengan selamat keluar dari dasar tambang yang dicekam gelap gulita itu.
Bila bathin anda sedang gundah dan kacau, anda tak akan pernah melihat jalan keluar yang tepat. Anda butuh untuk pertama-tama menenangkan diri. Hanya dalam keheningan anda bisa melihat pokok masyalah secara tepat, serta secara tepat pula membuat keputusan.
Berkah Dalem
-----------------------------
Berbagi Kasih Abner
Subscribe to:
Posts (Atom)