Sunday, November 4, 2012

Fratres,
mengenai kalung ROSARIO itu:
Selama pergolakan yang terjadi setelah adanya usaha perebutan kekuasaan oleh Komunis yang gagal di Indonesia pada tahun 1965, setiap orang yang dicurigai sebagai komunis segera "diamankan".

Orang-orang Katolik pada saat itu melindungi diri mereka dengan mengenakan Rosario di leher.

Bahkan orang buta huruf pun tahu bahwa tak seorang pun yang mengenakan Rosario di lehernya itu adalah seorang komunis.

Jadi, Rosario telah menyelamatkan banyak orang. ~Pastor Frank Mihalic

"Ad impossibilia nemo tenetur!"--"Tak seorangpun berkewajiban melakukan hal yang mustahil "

[+In Cruce Salus, Pada Salib Ada keselamatan. ~Thomas A Kempis, 'De Imitatione Christi', II, 2, 2]
[Titik Akhir Kehidupan]. Di dalam kehidupan manusia tidak ada sesuatu yang begitu mengajak kita berpikir-pikir daripada kematian. Tidak ada yang begitu goyah daripada kemewahan dan kesehatan. Seringkali k
ita berkenalan dengan kematian, yang biasanya mengacaukan kehidupan kita sendiri. Tiap peristiwa kematian mempunyai bahasanya sendiri terhadap kita pribadi, karena manusia yang masih hidup dan sehat mengerti bahwa ia solider dengan seluruh umat manusia yang harus mati. Anggota tubuh yang sekarang ini masih kokoh kuat dan menjalankan fungsinya dengan baik, wajah yang indah ini, akan hilang lenyap.

Kematian sangat mengerikan bagi kodrat kita, dalam arti kata yang sebenarnya. Apabila kematian tiba, kodrat kita merasa takut dan gemetar karena kita masih ingin hidup. Kematian adalah pemusnahan kehidupan, pemecahan dari kesatuan yang hidup dari manusia itu sendiri. Di samping itu timbul pula pertanyaan yang menakutkan: Apakah yang akan terjadi sesudah itu? Manusia gemetar melewati pintu gelap gulita itu untuk sampai ke tempat di mana belum ada seorang pun yang pulang kembali. Pikiran kita tidak dapat mengatakan yang jelas tentang kehidupan di balik dinding kematian.

[Akibat Dosa.] Iman kita juga mengajarkan kita tentang asal mula kematian itu. Dari wahyu, kita mengetahui bahwa kematian tidak termasuk dalam rencana asaliah Tuhan. Sebelum manusia mengacaukan keadaan dengan dosa, sebelum itu belum ada kematian. Dosa adalah sebab utama dari kematian. Kematian telah masuk ke dalam dunia oleh dosa. Kematian telah menjalar kepada semua orang karena semua orang telah berbuat dosa. (Rom 5:12). Kematian tidak dibuat oleh Allah dan Ia pun tidak bergembira atas kemusnahan yang hidup. Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan tetapi kedengkian setan telah memasukkan kematian ke dalam dunia. (Kebijaksanaan Salomo 2:23-24). Karena kesalahan pribadi maka manusia sendiri bertanggungjawab atas kematian; kematian adalah siksa yang adil dari pihak Tuhan untuk dosa yang dilakukan oleh manusia.

Di kayu salib, Kristus telah mengalahkan segala kekuatan yang bertentangan dengan Allah. Ia telah melemparkan penguasa dunia ini ke luar. (Yoh 12:31). Ia telah menghapuskan surat hutang kita dengan darah-Nya (Kol 2:14) dan telah mematahkan kuasa maut (2 Tim 1:10). Tetapi bersama itu tidak dikatakan bahwa sekarang tidak ada lagi dosa dan kematian di atas dunia ini. Salib Kristus adalah sebab universal dari pada kebahagiaan kita; itulah kekuatan yang membuat setiap orang dapat memperoleh pengampunan dan kehidupan. Setan sudah kalah, tetapi perjuangan berlangsung terus selama sejarah umat manusia dari turunan yang satu ke turunan yang lain. Selama ada manusia baru, selama ada turunan dari Adam lama, firdaus tidak akan kembali. Dan selama kekuatan dosa masih ada, selama itu kematian juga masih ada. Karena itu semua orang akan mati dalam persekutuan dengan Adam (1 Kor 15:22) dan karena itu juga kematian adalah musuh terakhir yang dibinasakan. (1 Kor 15:26)

[Pembersihan.] Kematian masih mempunyai suatu arti yang lebih mendalam bagi kehidupan manusiawi. Kehidupan adalah jalan menuju Allah. Tetapi di dalam kodrat kita yang sudah dicemari oleh dosa terdapat banyak rintangan. Untuk dipersatukan lagi dengan Allah dibutuhkan kemurnian hati yang besar. Seluruh kehidupan harus merupakan suatu proses pembersihan. Pembersihan yang terus menerus ini adalah mutlak perlu. Fase yang terakhir dan yang menentukan di dalam proses ini adalah kematian. Kematian berarti perpisahan dari segala yang fana.

[Kelahiran Baru.] Seorang Kristen memandang kematian bukan sebagai titik akhir, tetapi sebagai titik mula. Memang, kematian mengakhiri banyak hal: kenikmatan duniawi, kekayaan duniawi dan kehormatan duniawi; semuanya itu berakhir untuk selama-lamanya. Bagi mereka yang tidak merindukan sesuatu yang lain dan bagi mereka yang tidak mengharapkan sesuatu sesudah kehidupan ini, kematian merupakan suatu bencana. Tetapi seorang Kristen memandang kematian sebagai suatu kelahiran untuk kehidupan baru. Baginya kematian merupakan perpisahan yang menyedihkan dari sekian banyak hali yang begitu berkenan kepadanya. Tetapi ia tahu juga bahwa ia menuju ke suatu kehidupan yang lebih baik, suatu kehidupan penuh terang, kegembiraan dan kebebasan. Jikalau dipandang demikian, maka kematian adalah sesuatu yang baik, sesuatu yang patut diterima dan tidak boleh ditolak. Seorang Kristen harus merindukannya di dalam Kristus. Dan apabila seluruh kehidupan kita di dunia ini dapat disimpulkan dalam satu perkataan ialah perkataan Kristus, maka kematian adalah suatu keuntungan. (Fil 1:21)

[Persamaan dengan Kristus.] Kita mati bersama Kristus. Kematian tidak hanya pintu yang menghantar kita ke sesuatu yang lebih baik bagi kita secara pribadi. Kematian juga adalah suatu persatuan yang khusus dengan Kristus. Pikiran ini memberi semangat dan penghiburan. Bagi seorang Kristen tidak ada yang lebih baik daripada hidup bersama Kristus. Dengan demikian kematian Kristiani mempunyai sifat khas. Di mana Aku berada, di situ pelayan-Ku akan berada. (Yoh 12:26). Sebelum Kristus masuk ke dalam kemuliaan-Nya, Ia tergantung di salib. Bukankah Kristus harus menderita semuanya itu untuk masuk dalam kemuliaan-Nya? (Luk 24:26). Demikianlah jalan yang harus dilalui seorang Kristen. Setiap anggota menerima nasib dari kepalanya. Di dalam kepahitan kematian, tersembunyi kemanisan yang benar. Masih ada suatu rahasia di dalam kematian Kristen. Kematian Kristus tidak hanya bermanfaat bagi Diri-Nya sendiri, tetapi juga bagi kebahagiaan dunia. Kematian seorang Kristen harus mengambil bagian dalam kematian Kristus. Kematiannya harus bermanfaat bukan untuk dirinya sendiri, penghapusan dosa dan penerimaan kehidupan baru, tetapi juga berguna bagi orang lain. Dan sebagaimana kematian menjadi jalan menuju kepada kebahagiaan dan kemuliaan, demikian pula kematian kita adalah titik akhir pembuangan kita di dunia ini dan pengantar kita ke rumah Bapa yang ada di Surga.


Sumber:
Pater Herman Embruiru, SVD
Aku Percaya hlm. 164-166

Friday, November 2, 2012

PERINGATAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN
Jumat, 2 November 2012
Injil: Yoh 6: 37-40


Yesus bersabda dalam Injil pagi ini: "Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi akan Kubangkitkan pada akhir zaman."

Wow...bukankah betapa berartinya Anda yang menjadi pengikut Kristus di dalam Gereja-Nya? Karena sesungguhnya, Anda adalah pemberian terindah dari Bapa kepada Sang Anak untuk dituntun dan dibawa kembali kepada Bapa.

Pagi ini, kudatangi engkau para sahabatku dan mengatakan yang satu ini;
"Kelahiran telah membawamu dari Bapa ke dalam dunia. Kematian akan menghantarmu pulang kepada Sang Bapa. Namun, ingat bahwa antara kelahiran dan kematian adalah kehidupan. Dan, kehidupan adalah medan juang bagimu untuk membuktikan diri apakah Anda pantas atau tidak untuk dibawa kembali oleh Sang Putra ke tempat dari mana engkau telah datang, yakni Rumah Bapa.

Renungkanlah ini; Betapa besar cinta Allah akan dunia sehingga Ia mengaruniakan Putra-Nya sendiri untuk datang dan membawamu kembali kepada-Nya. Ya, Yesuslah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan, yang ingin agar engkau hidup sesuai dengan kebenaran Ilahi sehingga engkau pun dilayakkan untuk dibawa-Nya serta menghadap Bapa. Namun, kuingatkan kepadamu bahwa "hanya mereka yang mendengarkan Dia dan hidup sesuai dengan Firman-Nyalah yang akan diizinkan untuk berada di dalam satu kapal yang dinahkodai oleh Yesus menuju Sang Bapa.


Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabatnya,

***Duc in Altum***

Thursday, November 1, 2012

Tulisan Tangan dari Sebuah Hati untuk Hati:

"APAKAH ANDA MENIKMATI BUAH TANGANKU?"

Kata orang; "Hidup adalah sebuah perjalanan." Dan perjalanan berarti setiap orang berangkat dari sebuah titik awal/mulai dan akan berakhir pada sebuah tempat tujuan. 

Hidup memang terberi oleh Sang Khalik kepada setiap orang untuk memulai perjalanannya. Ia memberi otak untuk berpikir, hati untuk merenung/merasa, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan betapa pentingnya kaki untuk menginjakkan bumi untuk memulai tapak-tapak menuju titik akhir itu.

Meskipun demikian, tidak semua mata dapat melihat apa yang bisa terlihat; tidak semua telinga mampu mendengar bunyi suara; dan terlebih lagi tidak semua hati mampu memaknai apa yang terlihat dan terdengar dan yang dapat dirasakan. Bisa saja terjadi bahwa banyak orang hanya fokus pada titik akhir sehingga mereka berjalan begitu cepat untuk menggapainya, sehingga tidak lagi menikmati keindahan di sepanjang jalan itu, bahkan lebih mengerikan lagi jika setiap orang tahu titik akhir perjalanannya tapi tidak menikmatinya.

Saat ini kudatangi engkau sebagai sahabatku dan membisikkan padamu bahwa apa pun jalan yang Anda tempuh, dengan cara apa pun Anda menjalaninya, tapi satu yang pasti, yang akan keluar dari Mulut Sang Pencipta adalah "apakah Anda menikmati bumi ciptaan-Ku sesuai dengan kehendak-Ku?"

Ingat....ketika hidup masih terberi untukmu, maka itu berarti Tuhan masih memberimu kesempatan untuk mempersiapkan jawaban akhir bagi-Nya. Tidak ada seorang pun yang akan membantumu memberi jawaban kepada-Nya, selain dirimu sendiri.


Goresan hati seorang sahabat untuk para sahabatnya,

***Duc in Altum***
Tulisan Tangan dari Sebuah Hati untuk Hati:

"APAKAH ANDA MENIKMATI BUAH TANGANKU?"

Kata orang; "Hidup adalah sebuah perjalanan." Dan perjalanan berarti setiap orang berangkat dari sebuah titik awal/mulai dan akan berakhir pada sebuah tempat tujuan. 

Hidup memang terberi oleh Sang Khalik kepada setiap orang untuk memulai perjalanannya. Ia memberi otak untuk berpikir, hati untuk merenung/merasa, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan betapa pentingnya kaki untuk menginjakkan bumi untuk memulai tapak-tapak menuju titik akhir itu.

Meskipun demikian, tidak semua mata dapat melihat apa yang bisa terlihat; tidak semua telinga mampu mendengar bunyi suara; dan terlebih lagi tidak semua hati mampu memaknai apa yang terlihat dan terdengar dan yang dapat dirasakan. Bisa saja terjadi bahwa banyak orang hanya fokus pada titik akhir sehingga mereka berjalan begitu cepat untuk menggapainya, sehingga tidak lagi menikmati keindahan di sepanjang jalan itu, bahkan lebih mengerikan lagi jika setiap orang tahu titik akhir perjalanannya tapi tidak menikmatinya.

Saat ini kudatangi engkau sebagai sahabatku dan membisikkan padamu bahwa apa pun jalan yang Anda tempuh, dengan cara apa pun Anda menjalaninya, tapi satu yang pasti, yang akan keluar dari Mulut Sang Pencipta adalah "apakah Anda menikmati bumi ciptaan-Ku sesuai dengan kehendak-Ku?"

Ingat....ketika hidup masih terberi untukmu, maka itu berarti Tuhan masih memberimu kesempatan untuk mempersiapkan jawaban akhir bagi-Nya. Tidak ada seorang pun yang akan membantumu memberi jawaban kepada-Nya, selain dirimu sendiri.


Goresan hati seorang sahabat untuk para sahabatnya,

***Duc in Altum***
Like ·  · 

Wednesday, October 31, 2012

DAN DIA ADALAH AYAHKU

Alkisah suatu ketika, ada seorang anak yang menangis menemui guru kesayangannya. Sang anak rela berjalan jauh mendatangi rumah gurunya tersebut. Anak itu berumur sekitar 12 tahun. Namanya Ade.

“Pak Guru, aku benci pada Ayahku!... Benci sekali!” teriaknya sambil mendekati gurunya.

“Tenang dulu Ade... tenang...” sang guru mencoba menenangkan Ade, anak yang menangis tersedu-sedu, sambil memeluk dirinya.

“Kenapa Ade membenci Ayah? Coba katakan dengan tenang.”

”Pak Guru, Ayah sering membentakku... Ayah sering menjewerku! Baru saja, saya dimarahin... Pokoknya aku benci dia!” jawab Ade sambil menangis.

”Tenang, dulu Ade...”, ucap Gurunya, sambil mengambil sebuah kertas dan pena, yang kemudian di berikan kepada Ade.

”Coba Ade tuliskan di kertas ini, apa saja kekurangan Ayah Ade, sejak Ade masih kecil hingga sekarang...” kata sang guru kepada Ade. Ade terheran-heran sambil mengusap air matanya. Dia menatap kertas yang disodorkan gurunya.

Perlahan-lahan Ade mulai menuliskannya satu persatu kekurangan Ayahnya. Ayahnya yang suka membentak, suka menjewer dia, dan marah-marah. Dia tulis satu persatu dalam kertas tersebut.

”Sudah Ade?... Kalau sudah, sekarang coba tuliskan segala kelebihan dan kebaikan Ayahmu, sejak Ade masih kecil sekali hingga sekarang... Ayo, tuliskan...” pinta gurunya.

Sejenak Ade berfikir, dengan pandangan condong keatas, mencoba mengingat masa lalunya. Hingga satu persatu ia tuliskan kelebihan dan kebaikan ayahnya. Ayahnya yang suka membelikan dia mainan, mengajak bermain di taman, menggendongnya, membelikan es krim, menemaninya belajar, dan lainnya.

”Sudah Ade?” tanya sang guru dengan halus. Adepun menganggukkan kepalanya, sambil menatap wajah sang guru.

”Nah coba perhatikan, ternyata jauh lebih banyak kebaikan dan kelebihan Ayahmu, dibandingkan kekurangan dan keburukan Ayahmu. Lalu kenapa Ade masih membenci beliau? Harusnya Ade, bersyukur kepada Allah, karena diberikan Ayah yang mencintaimu.”

”Tahukah Ade, ketika engkau masih berada dalam kandungan ibu. Ayah sangat senang mendengar bahwa beliau akan menjadi ayah. Beliau memberitahu kepada seluruh temannya. Dengan bangga dia bercerita bahwa ia akan menjadi bapak. Anak ini Insya Allah akan menjadi anak yang sholeh atau sholehah, berguna bagi Agama, bangsa dan negara. Itulah kata-kata yang dicapkan Ayahmu kepada teman-temannya”

”Tahukah engkau, ketika ibumu akan melahirkan dirimu? Beliau pontang panting mencari bidan terbaik, agar engkau lahir di dunia ini dengan sehat dan sempurna. Beliau tak peduli berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan. Hingga tiba saatnya beliau menangis bahagia ketika melihat dirimu lahir dengan sehat. Sujud syukur dia lakukan tuk mensyukuri karunia-Nya, sambil berdoa agar dirimu menjadi anak yang sholeh, dan berbakti.”

”Tahukah engkau, ketika engkau masih bayi, Ayahmu dan Ibumulah yang membersihkan kotoranmu. Ketika engkau sulit bernafas karena pilek, beliau yang menyedot kotoran hidungmu dengan mulut beliau...”

”Pasti engkau ingat Ade? Ketika engkau harus sekolah, beliau harus membelikan seragam, buku, sepatu, dan lain-lain untukmu. Tahukah engkau Ade, bahwa beliau harus hutang sana sini untuk membelikan itu semua. Beliau merelakan bekerja seharian untuk membayar hutang-hutang itu.”

”Lalu, apakah pantas Ade membenci Beliau?” tanya sang guru.

Ade menunduk dan air matanya mengalir kembali. ”Tidak pantas Pak Guru.” jawabnya lirih sambil tersedu-sedu.

”Nah, pulanglah segera. Pasti beliau sedang mencarimu kemana-mana karena mengkhwatirkanmu. Minta maaflah kepada Beliau. Dan berjanjilah akan menjadi anak yang sholeh yang berbakti kepada orang tua.”

”Tok... tok... tok... ” tiba-tiba terdengar seorang tamu mengetok pintu rumah.

silahkan masuk siapa ya?” Pak Guru segera membukakan pintu.

Ade terperanjat kaget melihat seorang pria yang berada di depan pintu itu. Adepun langsung beranjak berdiri dan memeluknya. Ya, tamu itu adalah ayahnya yang sedang mencari Ade. Sang Guru hanya menatap terharu melihatnya mereka berdua berpelukan.

Saudara terkasih dalam Kristus, Ayah kita adalah sebaik-baik lelaki yang mencintai kita. Mungkin sikapnya tidak sesuai dengan harapan kita. Tapi yakinlah, jangan pernah meragukan, akan ketulusan dan kebesaraan cintanya kepada kita. Amin

Tuesday, October 30, 2012


TRICK OR TREAT!!!!

Ketika penghujung Oktober tiba, banyak orang di berbagai negara di belahan bumi, sibuk menghias diri dengan berbagai macam kostum. Ada kostum malaikat, bentuk-bentuk hantu yang muncul dari budaya lokal, Banyak rumah dihias dengan berbagai bentuk. Yang paling diingat adalah –setidaknya di kawasan Amerika – adalah “Jack-O-Lantern”, labu kuning menyala dengan mulut menyeringai –da
n tentu saja kumpulan anak kecil dengan kostum serba aneh yang menagih permen, trick or treat!!! Yup, it’s Halloween!!!

Walaupun di Indonesia mungkin paling banter hanya dirasakan di kawasan-kawasan tertentu kota-kota besar –dan paling hanya dalam bentuk kemeriahan pesta kostum –tidak bisa dipungkiri bahwa liburan Halloween telah menyedot arus konsumerisme, seperti halnya Natal. Apa sebenarnya Halloween itu?
Halloween berasal dari kata Hallow’s eve. Hallow adalah kata bahasa Inggris kuno untuk “Saint”. Maka Hallow’s eve adalah malam para orang kudus. Hal ini dikarenakan pada tanggal 1 November, umat Katolik di seluruh dunia merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus, dimana Gereja Katolik secara khusus menghormati semua orang kudus baik mereka yang “terdaftar”(di-kanonisasi) maupun yang tidak. (Sedangkan sehari setelahnya, pada tanggal 2 November, seluruh Gereja Katolik memperingati Peringatan Arwah Semua Orang Beriman/All Souls Day).

Asal usul Hari Raya Orang Kudus sendiri dalam Gereja Katolik memiliki kisah yang panjang. Sampai pada abad ke-9, Gereja Katolik merayakan Hari Raya Orang Kudus pada tanggal 13 Mei, dalam suasana sukacita Paskah. Dalam terang iman ini, Gereja Katolik melihat bahwa para martir adalah sungguh-sungguh merupakan teladan dan sumber inspirasi. Hari Raya Orang Kudus/Solemnity of All Saints adalah suatu hari raya meriah untuk menghormati para kudus yang ada di surga. Adalah Paus Gregorius III yang kemudian menggeser tanggal tersebut menjadi tanggal 1 November untuk Gereja di Roma, Penetapan tanggal ini kemudian disebarluaskan ke seluruh Gereja Katolik di dunia oleh Paus Gregorius IV.

Lalu bagaimana dengan arwah umat beriman? Selama seribu tahun era awal kekristenan, tidak pernah ada hari khusus untuk mengenang arwah orang yang meninggal. Namun hingga abad ke-7, banyak biara yang menyelenggarakan Misa Arwah tahunan bagi para arwah. Gagasan penyelenggaraan tahunan ini akhirnya mengakar juga di lapisan umat di luar biara. Sekitar tahun 1048, seorang abbas (kepala biara) menggagas tanggal 2 November, sebagai hari peringatan arwah. Tanggal ini dipilih untuk menegaskan bahwa dalam ajaran Katolik, hubungan antara orang kudus di surga (Gereja Jaya), para arwah yang menanti surga dalam api penyucian (Gereja Menderita), dan umat yang masih mengembara dunia (Gereja Peziarah), tidak pernah terputus, berdasarkan ikatan Roh Kudus dalam apa yang disebut oleh Gereja Katolik sebagai “Tubuh Mistik Kristus”.

Ketika tanggal 2 November kemudian ditetapkan Gereja Katolik sebagai hari Peringatan Arwah Semua Orang Beriman yang berlaku universal, maka konsekuensinya, tanggal 31 Oktober akhirnya menjadi Vigili (malam penantian) untuk dua event besar tersebut. Tanggal 31 Oktober pula yang akhirnya menjadi tanggal yang dipilih oleh kaum “reformator” (cikal bakal Protestan) untuk memakukan 95 dalil di pintu Gereja Wittenberg, dengan demikian mereka secara eksplisit dan implisit menyatakan menolak ajaran Gereja Katolik sejak kebangkitan Kristus, yaitu persekutuan para kudus (dalam pengertian Katolik) dan praktik berdoa untuk kedamaian arwah orang beriman yang sudah meninggal.

Banyak orang yang menghubungkan Halloween dengan tradisi suku Celtic. Sebenarnya, tidak ada bukti yang cukup kuat bahwa kedua Paus yang menetapkan Hari Raya Orang Kudus, sebagai inkulturasi terhadap budaya Celtic. Bahkan opini ini baru muncul ribuan tahun setelah Hari Raya Orang Kudus ditetapkan berlaku universal. Tetapi memang tidak bisa disangkal, apa yang saat ini berkembang dalam perayaan Halloween, memang berasal dari budaya pagan Celtic. Lalu apakah sebagai seorang Katolik, tidak boleh merayakan Halloween?

Tentu saja boleh, karena seperti halnya Malam Natal, Malam Hari raya Orang Kudus, juga sepatutnya mendapat tempat di hati umat Katolik. Tidak salah mengadakan pesta kostum, tapi akan lebih baik jika pesta kostum itu diarahkan pada pengenalan akan tokoh-tokoh orang kudus, dan bukan sekadar acara pesta. Mungkin karena di tempat kita peringatan Halloween belum membudaya (karena dipandang sebagai budaya Amerika), maka keluarga-keluarga Katolik dapat berkumpul di rumah-rumah mereka, saling berbagi cerita mengenai riwayat hidup santo/a pelindung masing-masing, atau bisa juga membahas riwayat orang kudus yang belum terlalu dikenal bersama anak-anak. Mari kembalikan “budaya Amerika” ini menjadi “budaya Katolik”!

:)

Sunday, October 28, 2012

HIDUP ADALAH PERJUANGAN

Konon di satu saat yang telah lama berlalu, Elang dan Kalkun adalah burung yang menjadi teman yang baik. Dimanapun mereka berada, kedua teman selalu pergi bersama-sama. Tidak aneh bagi manusia untuk melihat Elang dan Kalkun terbang bersebelahan melintasi udara bebas.

Satu hari ketika mereka terbang, Kalkun berbicara pada Elang, “Mari kita turun dan mendapatkan sesuatu unt
uk dimakan. Perut saya sudah keroncongan nih!”. Elang membalas, “Kedengarannya ide yang bagus”.

Jadi kedua burung melayang turun ke bumi, melihat beberapa binatang lain sedang makan dan memutuskan bergabung dengan mereka. Mereka mendarat dekat dengan seekor Sapi. Sapi ini tengah sibuk makan jagung,namun sewaktu memperhatikan bahwa ada Elang dan Kalkun sedang berdiri dekat dengannya, Sapi berkata, “Selamat datang, silakan cicipi jagung manis ini”.

Ajakan ini membuat kedua burung ini terkejut. Mereka tidak biasa jika ada binatang lain berbagi soal makanan mereka dengan mudahnya. Elang bertanya, “Mengapa kamu bersedia membagikan jagung milikmu bagi kami?”. Sapi menjawab, “Oh, kami punya banyak makanan disini. Tuan Petani memberikan bagi kami apapun yang kami inginkan”. Dengan undangan itu, Elang dan Kalkun menjadi terkejut dan menelan ludah. Sebelum selesai, Kalkun menanyakan lebih jauh tentang Tuan Petani.

Sapi menjawab, “Yah, dia menumbuhkan sendiri semua makanan kami. Kami sama sekali tidak perlu bekerja untuk makanan”. Kalkun tambah bingung, “Maksud kamu, Tuan Petani itu memberikan padamu semua yang ingin kamu makan?”. Sapi menjawab, “Tepat sekali!. Tidak hanya itu, dia juga memberikan pada kami tempat untuk tinggal.” Elang dan Kalkun menjadi syok berat!. Mereka belum pernah mendengar hal seperti ini. Mereka selalu harus mencari makanan dan bekerja untuk mencari naungan.

Ketika datang waktunya untuk meninggalkan tempat itu, Kalkun dan Elang mulai berdiskusi lagi tentang situasi ini. Kalkun berkata pada Elang, “Mungkin kita harus tinggal di sini. Kita bisa mendapatkan semua makanan yang kita inginkan tanpa perlu bekerja. Dan gudang yang disana cocok dijadikan sarang seperti yang telah pernah bangun. Disamping itu saya telah lelah bila harus selalu bekerja untuk dapat hidup.”

Elang juga goyah dengan pengalaman ini, “Saya tidak tahu tentang semua ini. Kedengarannya terlalu baik untuk diterima. Saya menemukan semua ini sulit untuk dipercaya bahwa ada pihak yang mendapat sesuatu tanpa mbalan. Disamping itu saya lebih suka terbang tinggi dan bebas mengarungi langit luas. Dan bekerja untuk menyediakan makanan dan tempat bernaung tidaklah terlalu buruk. Pada kenyataannya, saya menemukan hal itu sebagai tantangan menarik”.

Akhirnya, Kalkun memikirkan semuanya dan memutuskan untuk menetap dimana ada makanan gratis dan juga naungan. Namun Elang memutuskan bahwa ia amat mencintai kemerdekaannya dibanding menyerahkannya begitu saja. Ia menikmati tantangan rutin yang membuatnya hidup. Jadi setelah mengucapkan selamat berpisah untuk teman lamanya Si Kalkun, Elang menetapkan penerbangan untuk petualangan baru yang ia tidak ketahui bagaimana ke depannya.

Semuanya berjalan baik bagi Si Kalkun. Dia makan semua yang ia inginkan. Dia tidak pernah bekerja. Dia bertumbuh menjadi burung gemuk dan malas. Namun suatu hari dia mendengar istri Tuan Petani menyebutkan bahwa Hari raya Thanks giving akan datang beberapa hari lagi dan alangkah indahnya jika ada hidangan Kalkun panggang untuk makan malam. Mendengar hal itu, Si Kalkun memutuskan sudah waktunya untuk pergi dari pertanian itu dan bergabung kembali dengan teman baiknya, si Elang.

Namun ketika dia berusaha untuk terbang, dia menemukan bahwa ia telah tumbuh terlalu gemuk dan malas. Bukannya dapat terbang, dia justru hanya bisa mengepak-ngepakkan sayapnya. Akhirnya di Hari Thanks giving keluarga Tuan Petani duduk bersama menghadapi panggang daging Kalkun besar yang sedap.

Ketika anda menyerah pada tantangan hidup dalam pencarian keamanan, anda mungkin sedang menyerahkan kemerdekaan anda…Dan Anda akan menyesalinya setelah segalanya berlalu dan tidak ada KESEMPATAN lagi…

Seperti pepatah kuno “selalu ada keju gratis dalam perangkap tikus”